
Pakar Politik dan Fikih Kontemporer KH Muhammad Shiddiq al-Jawi menegaskan bahwa anggapan Rasulullah saw. menolak kekuasaan dan tidak memiliki konsep negara merupakan kesimpulan keliru yang kerap disalahpahami.
“Kita jangan salah paham seolah-olah Nabi menolak kekuasaannya. Tidak! Yang ditolak oleh Nabi bukan kekuasaannya, tetapi syarat bahwa kekuasaan itu mensyaratkan Nabi menghentikan dakwah Islam,” ujarnya dalam program PROKONTRA: Relasi Panas Islam dan Negara, Ini Jawabannya! Kamis (25/12/2025), di kanal YouTube Al-Khilafah.
Kiai Shiddiq mengungkapkan bahwa memang benar ada riwayat Rasulullah yang pernah diberi tawaran oleh orang-orang kafir Quraisy beberapa hal. Di antaranya kekuasaan, yang ada riwayatnya dalam sirah Ibnu Hisyam juz pertama halaman 293.
Ia mengutip pernyataan kaum Quraisy kepada Nabi Muhammad saw., “Wain kunta turidu bihi mulkan malaknaka alaina. Hai Muhammad! Kalau kamu dengan dakwah yang kamu lakukan itu menginginkan kekuasaan, kami jadikan engkau berkuasa atas kami.”
Ia pun menjelaskan bahwa penolakan Rasulullah terhadap tawaran tersebut bukan karena sikap anti-kekuasaan, melainkan karena adanya syarat untuk meninggalkan dakwah Islam.
“Bahwa ketika Rasulullah itu ditawari kekuasaan, beliau menolak, itu bukan menolak kekuasaannya itu sendiri. Melainkan menolak syarat yang diminta oleh orang-orang Quraisy,” tegasnya.
Ia menambahkan, syarat yang dimaksud adalah agar Rasulullah menghentikan dakwah tauhid (lā ilāha illallāh) di tengah-tengah kehidupan kaum Musyrik Quraisy ketika itu.
Maka Rasulullah menjawab, “Andai kata mereka itu meletakkan matahari di tangan kananku, bulan di tangan kiriku supaya aku meninggalkan dakwah ini, maka aku tidak akan meninggalkannya sampai aku mati atau aku mendapatkan kemenangan,” tutur Kiai Shiddiq mengutip sabda Rasulullah.
Dari penjelasan tersebut, kata Kiai Shiddiq, menjadi jelas bahwa Rasulullah menolak kekuasaan yang mensyaratkan penghentian dakwah Islam. “Bukan menolak kekuasaan sebagai sarana menegakkan agama,” tegasnya.
Nabi Justru Memohon Kekuasaan yang Menolong
Kiai Shiddiq lanjut menerangkan bahwa Nabi Muhammad saw. justru memohon kekuasaan kepada Allah SWT. untuk menolong agama-Nya. Hal ini, terangnya, ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Isra' ayat 80.
“Di dalam surat Al-Isra' ayat 80 itu salah satu yang diminta oleh Rasulullah kepada Allah itu adalah waj‘alli milladunka sultanan nashira. Ya Allah! Jadikanlah, karuniakanlah kepadaku kekuasaan yang menolong,” ungkapnya.
Berdasarkan tafsir Ibnu Katsir, ia menyebut "sultanan nashira" berarti kekuasaan yang menolong agama Allah dan kitab-Nya.
“Jadi ini menjadi bukti bahwa tidak benar orang yang mengatakan Nabi Muhammad itu anti kekuasaan atau anti negara, buktinya Nabi memohon kepada Allah,” tegasnya.
Pentingnya Kekuasaan dalam Islam
Lebih lanjut, Kiai Shiddiq juga menekankan betapa pentingnya kekuasaan dalam penerapan syariat Islam.
Ia berpandangan, pemahaman terhadap Rasulullah, termasuk terkait kekuasaan, tidak cukup hanya disimpulkan dari sisi teks, tetapi juga harus dilihat dari praktik ketika beliau hijrah ke Madinah.
“Apa yang terjadi di Madinah pada waktu itu? Nabi itu mempunyai yang namanya kekuasaan. Di situlah kemudian dengan kekuasaan yang dimiliki oleh Nabi itu, Nabi Muhammad saw. menggunakan kekuasaan itu untuk menegakkan hukum-hukum Allah,” ujarnya.
Ia menguraikan pembagian pelaksanaan syariat Islam sebagaimana dijelaskan Syekh Ahmad Al-Mahmud dalam kitab "Ad-Da‘wah ila al-Islam". Pertama, syariat yang dapat dilaksanakan secara individu, seperti salat. Kedua, syariat yang dilaksanakan secara jamaah, seperti amar makruf nahi mungkar. Ketiga, syariat yang hanya dapat dilaksanakan oleh negara.
“Para fuqaha sepakat bahwa tidak boleh ada yang menegakkan hudud, kemudian jinayat dan yang lain-lain, seperti hukum potong tangan untuk pencuri dan hukum qishas, kecuali imam atau khalifah atau wakilnya,” sebutnya.
Hal tersebut, jelas Kiai Shiddiq, menunjukkan adanya hukum-hukum syariah yang tidak mungkin terwujud tanpa kekuasaan.
“Secara akal sehat juga itu konsekuensi logis. Tidak terbayang sistem kapitalisme atau komunisme diterapkan tanpa negara. Demikian juga seharusnya cara berpikirnya kepada Islam,” pungkasnya. [] Muhar
0 Komentar