
Kasus serangan Amerika Serikat (AS) ke Venezuela yang disertai penculikan Presiden Nicolas Maduro adalah wujud kerapuhan kapitalisme.
Hal tersebut ditegaskan oleh Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS), Farid Wadjdi, dalam siniar bertajuk “Mbois: Heboh Soal Venezuela, Begini Lengkap dari A–Z Pembahasannya!” di kanal YouTube Tabloid Media Umat, Selasa (6/1/2026).
“Ini harus dipahami sebagai bentuk dari kehancuran nilai-nilai kapitalisme,” ujar Farid.
Ia menjelaskan, peristiwa tersebut membuka topeng keburukan ideologi kapitalisme yang selama ini diklaim AS melalui isu demokrasi, hak asasi manusia, kedaulatan negara, serta berbagai narasi turunannya.
“Dengan serangan ini, isu-isu itu semua menjadi melemah,” imbuhnya.
Farid menilai, meski AS tampak perkasa, tindakan tersebut justru menunjukkan kelemahan mendasar sistem kapitalisme yang diusung negara-negara imperialis, termasuk demokrasi sebagai salah satu pilarnya.
Menurutnya, dalam prinsip demokrasi tidak dibenarkan satu negara masuk ke wilayah negara berdaulat lain. “Ini kan tidak mencerminkan kedaulatan negara Venezuela,” bebernya.
Ia menambahkan, kasus Venezuela juga melemahkan konsep negara bangsa (nation state) yang selama ini diagung-agungkan dalam sistem kapitalisme sebagai fondasi negara kuat.
“Ya, justru sistem negara bangsa inilah yang tampaknya memperlemah, sebagaimana yang juga terjadi di Timur Tengah. Bagaimana sistem negara bangsa ini memecah belah Timur Tengah. Dan sekaligus, ini menunjukkan kegagalan organisasi dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB),” ungkapnya.
Farid menyimpulkan, di satu sisi kasus Venezuela seolah menunjukkan kehebatan AS, tetapi di sisi lain justru menampakkan semakin rapuhnya sistem kapitalisme global.
“Karena mereka sendiri yang melanggar nilai-nilai dasar mereka seperti demokrasi, kedaulatan negara bangsa (nation state), hukum internasional, PBB, semuanya dilanggar,” tandasnya.
Kokohkan Imperialisme AS
Farid juga menilai, serangan ke Venezuela dan penculikan Presiden Maduro pada hakikatnya mengokohkan politik imperialisme (penjajahan) Amerika Serikat (AS) sebagai negara imperialis.
“Ya, tentu ini tidak bisa dilepaskan dari politik imperialisme Amerika. Jadi, mengokohkan hal itu semua,” tegasnya.
Hal itu, menurutnya, sejalan dengan Strategi Keamanan Nasional AS tahun 2025 yang menegaskan penguatan imperialisme, meskipun terdapat pergeseran peran AS yang tidak lagi ingin menjadi pelindung dunia atau menopang rezim asing yang tidak memberikan keuntungan langsung.
“Namun, dengan slogan America First, kepentingan nasional AS tetap ditempatkan di atas segalanya,” sebutnya.
Dalam strategi tersebut, kata Farid, juga ditegaskan doktrin yang disebut sebagai Trump Corollary, yakni kebangkitan Doktrin Monroe versi baru yang menegaskan dominasi AS di belahan dunia Barat.
Dominasi itu, lanjutnya, diwujudkan demi mencegah masuknya dominasi pesaing global seperti China, Rusia, Eropa, termasuk Iran, melalui pengendalian perdagangan, aliansi, serta keunggulan teknologi dan sains. Selain itu, AS juga membuka ruang intervensi militer dengan pola yang berbeda dari intervensi di Irak dan Afghanistan.
Farid memungkasi, Venezuela juga merupakan negara dengan kekayaan sumber daya alam (SDA) yang begitu besar, sehingga menjadi incaran imperialisme kapitalisme AS.
“Cadangan minyaknya disebut-sebut terbesar di dunia, diperkirakan lebih dari 300 miliar barel, serta cadangan gas alam terbesar nomor empat dunia melebihi 195 triliun kaki kubik,” ungkapnya. [] Muhar
0 Komentar