
Menyikapi wacana pengiriman sekitar 8.000 pasukan militer Indonesia ke Gaza-Palestina untuk bergabung dalam Board of Peace di bawah komando Amerika Serikat (AS), Aliansi Mahasiswa Muslim Indonesia (AMMI) menegaskan bahwa militer Indonesia bukan alat imperialisme AS.
Penegasan itu disampaikan melalui pernyataan sikap dalam aksi bela Palestina yang digelar AMMI pada Jumat sore (27/2/2026) di kawasan Taman Silang Monas, Jakarta.
“Kami berdiri di sini untuk menyatakan dengan tegas: militer Indonesia bukan alat imperialisme Amerika Serikat,” ucap Gustar Umam, salah seorang perwakilan AMMI, membacakan rilis pers berjudul “Tolak Intervensi AS! Haram Mengirim Tentara di Bawah Komando Amerika”.
Gustar mengungkapkan bahwa AS adalah negara penjajah (kafir harbi fi‘lan) yang kebijakannya telah menimbulkan penderitaan bagi kaum Muslimin di Palestina, Irak, Afganistan, dan Suriah.
“Dominasi mereka di Timur Tengah dan berbagai belahan dunia dibangun di atas ketidakadilan dan eksploitasi,” terangnya.
Maka, AMMI menilai, tidak dapat dibenarkan jika negeri (Indonesia) dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar justru menyerahkan pasukan militernya berada di bawah komando negara tersebut.
Hal tersebut, menurut AMMI, merupakan bentuk penjajahan gaya baru (neoimperialisme) yang tidak dapat diterima.
Bahaya dan Haram
AMMI juga menerangkan, bergabungnya Indonesia dalam BoP di bawah komando AS bukanlah langkah perdamaian. Ini adalah ilusi perdamaian yang berbahaya dan haram untuk diikuti.
“Kebijakan tersebut berpotensi menjadikan tentara dari negeri Muslim sebagai alat untuk menjaga kepentingan geopolitik dan ekonomi global yang tidak berpihak pada umat Islam,” jelas Gustar.
Berdasarkan Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 141, AMMI lantas memperingatkan bahwa secara syar’i mengirim tentara di bawah komando AS adalah haram.
“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang yang beriman,” kutip Gustar.
“Menyerahkan komando militer kepada negara penjajah berarti membuka jalan bagi dominasi dan intervensi terhadap kaum Mukminin,” bebernya.
AMMI pun menekankan, militer kaum Muslimin semestinya berfungsi menjaga kehormatan Islam (izzul Islam wal Muslimin), melindungi umat, dan membela negeri-negeri yang tertindas, bukan menjadi instrumen kepentingan asing.
Tiga Kesimpulan
Oleh karena itu, Gustar kemudian menyimpulkan bahwa AMMI menyatakan sikap:
- Pertama, menolak keras kebijakan pemerintah mengirim militer Indonesia atas nama BoP di bawah komando Amerika Serikat.
- Kedua, mengingatkan kepada penguasa dan pimpinan militer bahwa menyerahkan komando tentara Muslim kepada negara penjajah adalah tindakan haram dan bentuk pengkhianatan terhadap amanah umat.
- Ketiga, mendesak agar militer Indonesia bersikap independen serta memprioritaskan perlindungan kedaulatan dan kepentingan umat Islam, serta menjadi pasukan yang membebaskan tanah Palestina yang dijajah.
“Katakan tidak pada intervensi asing, dan katakan ya pada kemerdekaan sejati umat Islam. Saatnya umat bangkit menolak segala bentuk dominasi dan tekanan luar negeri,” tutup Gustar mengakhiri. [] Muhar
0 Komentar