
Ulama KH Yasin Muthohar mengulas penyebab Al-Qur’an tidak lagi dijadikan pedoman hidup oleh umat Islam saat ini.
“Saudaraku yang dirahmati Allah! Ada satu pertanyaan penting. Kenapa hari ini Al-Qur’an tidak lagi dijadikan pedoman hidup? Kenapa Al-Qur’an tidak hadir dalam ekonomi, dalam politik, dalam negara?” ujarnya dalam Tausiyah Ramadan 1447 H: Hilangnya Cahaya Al-Qur’an dari Sendi Kepemimpinan, di kanal YouTube Ra’yun TV, Kamis (19/2/2026).
Ia melanjutkan bahwa kondisi tersebut terjadi karena Al-Qur’an telah kehilangan pasangannya.
“Kenapa? Karena hari ini Al-Qur’an kehilangan partnernya. Apa? Kekuasaan. Harusnya kekuasaan dan Al-Qur’an tidak boleh dipisahkan,” tegasnya.
Kiai Yasin kemudian mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, “‘Ala innal qur’ana was-sulthana sayaftariqoni fala tufariqul kitab.”
Ia menerangkan pesan hadis tersebut, “Ingat! Sesungguhnya Al-Qur’an dan kekuasaan itu akan terpisah nanti. ‘Fala tufariqul kitab.’ Ketika itu terjadi, ‘fala tufariqul kitab’, jangan berpisah dari Al-Qur’an. Jangan pisahkan Al-Qur’an dari kekuasaan. Kenapa? Karena Al-Qur’an itu menghendaki untuk menyatu dengan kekuasaan. Al-Qur’an harus menyatu dengan kekuasaan.”
Ketika Al-Qur’an dipisahkan dari kekuasaan, lanjutnya, maka akan muncul pemimpin yang menyimpang.
“Karena mereka tidak memimpin dengan Al-Qur’an. Jika kalian mengikuti pemimpin itu, mereka akan menyesatkan kalian,” kutipnya.
Kiai Yasin juga menyinggung tentang doa Nabi Muhammad SAW yang memohon kekuasaan agar mampu menegakkan perintah Allah.
Ia merujuk penjelasan Ibnu Katsir tentang makna sultanan nashira sebagai kekuasaan yang menolong Kitab Allah.
“Al-Qur’an adalah kitab yang tidak bisa dipisahkan dari kekuasaan. Harus ada kekuasaan di tengah-tengah umat untuk menerapkan Al-Qur’an. Inilah yang hari ini tidak ada,” tegasnya.
Ia pun membandingkan kondisi Ramadan saat ini dengan Ramadan pada masa Rasulullah SAW, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, hingga masa kekhilafahan Islam.
“Ramadan dulu dalam naungan kekuasaan Islam, yaitu kekhilafahan, menerapkan Al-Qur’an. Ramadan hari ini minus dari kekuasaan,” ujarnya.
Akibatnya, kata Kiai Yasin, Al-Qur’an hanya hadir secara terbatas. “Al-Qur’an hanya hadir di majelis-majelis. Al-Qur’an tidak hadir sebagai pedoman. Al-Qur’an tidak hadir di dalam ekonomi, dalam politik, apalagi di dalam negara,” ungkapnya.
Ia menutup tausiyahnya dengan menyampaikan kerinduan terhadap Ramadan seperti yang dicontohkan pada masa Nabi Muhammad SAW.
“Kita sangat merindukan Ramadan sebagaimana di masa Nabi. Ramadan yang tidak memisahkan antara kekuasaan dengan Al-Qur’an,” pungkasnya. [] Muhar
0 Komentar