Sejarah

6/recent/Sejarah-posts

Header Ads Widget

Responsive Advertisement

PENGIRIMAN RIBUAN PERSONEL TNI KE GAZA: UNTUK PERDAMAIAN ATAU MENGAMANKAN PENJAJAHAN?


Rencana Indonesia mengerahkan 5.000 hingga 8.000, bahkan lebih, personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) ke Gaza, Palestina, sebagai bagian dari Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) harus dipertanyakan secara serius, khususnya oleh umat Islam sebagai penduduk terbesar di negeri ini.

Apalagi, langkah ini dikaitkan langsung dengan rencana “perdamaian” yang digagas Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sosok preman kelas dunia yang selama ini justru menjadi pendukung utama penjajahan Zionis terhadap negeri Islam, Palestina.

Sangat disayangkan, target pengerahan pasukan ini bukan untuk aktivitas mulia berjihad mengusir penjajah Israel, tetapi justru berpotensi besar mengamankan posisi Israel dan meredam perlawanan rakyat Palestina yang terjajah. Di balik narasi “stabilisasi” dan “perdamaian”, tersembunyi kepentingan imperialis untuk menenangkan wilayah jajahan agar penjajah bisa terus bercokol tanpa gangguan perlawanan.

Artinya, pengiriman ribuan pasukan TNI bersama ISF ke Palestina ini bukan hadir sebagai pembebas, melainkan sebagai tameng politik dan militer bagi Israel. Kehadiran mereka justru dapat membatasi ruang gerak mujahidin dan rakyat Palestina dalam mempertahankan tanah serta kehormatan mereka. Dengan skema ini, penjajahan dilegalkan atas nama “keamanan regional”. Na‘udzubillāhi min dzālik.

Yang perlu dicatat, tidak akan pernah ada kedamaian sejati selama penjajah masih bercokol di tanah yang dijajah.

Pengiriman pasukan ke wilayah yang terus dibombardir berarti juga menempatkan prajurit TNI pada risiko besar: terkena bom dan peluru penjajah Israel yang buas dan tidak pernah menghormati hukum internasional. Kasihan sekali para personel dan keluarga yang ditinggalkan, karena mereka terjebak dalam kedustaan misi perdamaian palsu ala Amerika Serikat dan Israel.


Perintah Allah: Memerangi dan Mengusir Penjajah

Ini bukan hanya masalah strategi militer, tetapi soal arah politik dan keberpihakan. Dalam perspektif Islam, sikap ini jauh lebih serius karena bertentangan langsung dengan perintah Allah Swt.

Islam tidak memerintahkan kaum Muslim menjadi penjaga stabilitas penjajahan, tetapi memerangi dan mengusir penjajah dari negeri kaum Muslim.

Dan bunuhlah mereka (penjajah yang memerangi) di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu.” (QS. Al-Baqarah: 191)

Ayat ini menegaskan prinsip tegas Islam: penjajah harus diusir dari tanah yang mereka rampas, bukan diamankan atau dilindungi dengan pasukan yang dibentuk oleh Donald Trump.

Allah Swt. juga memerintahkan kaum Muslim untuk bangkit membela negeri yang dijajah.

Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang tertindas…?” (QS. An-Nisa’: 75)

Ayat ini bukan sekadar anjuran moral, melainkan kewajiban politik dan militer ketika kaum Muslim ditindas dan dijajah, sebagaimana yang terjadi di Palestina hari ini.

Karena itu, mengabaikan perintah memerangi dan mengusir penjajah Israel (apalagi terlibat dalam misi yang justru menjaga stabilitas penjajahannya) akan berdampak buruk, baik secara politik, moral, maupun spiritual. Allah Swt. mengingatkan:

Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang zalim, yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.” (QS. Hud: 113)


Perdamaian Ilusi

Umat Islam harus sadar: perdamaian ala imperialis hanyalah ilusi. Selama penjajahan tidak dicabut dan tanah Palestina belum dibebaskan, setiap misi “stabilisasi” hanyalah upaya membekukan konflik agar penjajah aman dan perlawanan dilemahkan.

Islam tidak mengajarkan netralitas dalam kezaliman. Islam memerintahkan sikap tegas: bersama yang tertindas, memerangi penjajah, dan mengusir mereka dari bumi yang dirampas hingga keadilan benar-benar ditegakkan. [] Muhar

Posting Komentar

0 Komentar