
Fungsi dakwah adalah menyadarkan umat untuk taat kepada Allah Swt., bukan sekadar untuk menenangkan hati. Hal ini dinyatakan oleh praktisi pendidikan dan aktivis dakwah, Ustaz Ali Buto, dalam podcast bertajuk Dakwah Ramadhan: Menenangkan atau Menyadarkan? di kanal YouTube Dakwah Tangsel, Ahad (7/3/2026).
“Seharusnya memang dakwah ini menyadarkan, bukan sekadar menenangkan. Memang betul, dakwah ada yang menenangkan ketika kita mendapatkan siraman ceramah-ceramah. Namun, juga harus dipahami dan dimasukkan ke dalam hati serta pemikiran kita untuk selalu taat dan melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah Swt.,” ujarnya.
Sebab, merujuk firman Allah dalam Surah An-Nahl ayat 125, Ustaz Ali menjelaskan bahwa hakikat dakwah adalah menyeru manusia untuk kembali kepada Allah, yaitu dengan cara melaksanakan ketaatan kepada-Nya.
“Sehingga dikatakan bahwa dakwah itu adalah menyeru. Menyeru siapa? Menyeru manusia. Kepada siapa? Kepada Allah. Menyeru manusia untuk taat kepada Allah,” jelasnya.
Ustaz Ali selanjutnya mengungkapkan bahwa banyak ulama juga menjelaskan hakikat dakwah sebagai upaya mengajak manusia menuju jalan yang lurus.
“Apa yang diperintahkan oleh Allah dijalankan dan apa yang dilarang-Nya ditinggalkan. Itu yang sebaiknya dilakukan oleh umat saat ini,” terangnya.
Oleh karena itu, menurutnya, dakwah tidak boleh berhenti pada penyampaian informasi atau sekadar memberikan ketenangan spiritual. Akan tetapi, dakwah harus mendorong umat untuk menjalankan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
“Ketika kita mendapatkan nasihat ataupun mendengarkan ceramah-ceramah dari para ulama, para kiai, dan para guru kita, bukan hanya sekadar tahu saja, tetapi seruan-seruan itu kemudian harus dipraktikkan,” tuturnya.
Ia juga menyayangkan fenomena di masyarakat ketika pengajian sering kali lebih dipandang sebagai hiburan.
Menurutnya, sebagian orang datang ke pengajian hanya untuk menikmati ceramah yang lucu tanpa memahami substansi pesan dakwah.
“Akhirnya datang mendengarkan, tetapi yang diingat itu hal-hal yang menyegarkan atau lucu, sedangkan inti materi yang disampaikan tidak terserap,” ungkapnya.
Selain itu, Ustaz Ali menambahkan bahwa fungsi utama dakwah juga adalah memperbaiki kondisi masyarakat yang rusak menjadi lebih baik. Karena itu, menurutnya, para dai seharusnya mampu menjelaskan fakta kerusakan yang terjadi di tengah umat sekaligus menawarkan solusi menurut Islam.
“Salah satu fungsi dakwah ini memang memperbaiki sesuatu yang rusak menjadi baik, kondisi yang tidak baik menjadi kondisi yang baik,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa perubahan dalam masyarakat hanya dapat terjadi jika ada tiga syarat utama.
“Ada tiga persyaratan terjadinya perubahan itu. Pertama, munculnya kesadaran akan fakta-fakta kerusakan. Kedua, memahami solusi terhadap fakta kerusakan itu. Ketiga, memahami metodenya, yaitu penerapan sistem Islam, untuk mewujudkan solusi atas kerusakan itu,” simpulnya. [] Muhar
0 Komentar