Sejarah

6/recent/Sejarah-posts

Header Ads Widget

Responsive Advertisement

MUDIK AMAN DAN NYAMAN DI BAWAH NAUNGAN KHILAFAH


Mudik Lebaran selalu menjadi momen yang ditunggu oleh kaum Muslim di negeri ini. Mereka rela mengeluarkan dana yang tidak sedikit demi bisa bertemu keluarga dan sanak saudara.

Namun, mudik terkadang tidak berjalan sesuai dengan harapan, karena ada saja masalah yang sering terjadi saat waktu mudik tiba, seperti kemacetan dan bahkan kecelakaan.

Hal ini juga terjadi pada mudik tahun 2026. Dilansir dari Kompas.com, Polri mencatat sebanyak 173 kecelakaan lalu lintas terjadi pada Selasa (17/3/2026) pukul 18.00 WIB hingga Rabu (18/3/2026) pukul 06.00 WIB. Dari jumlah tersebut, 29 orang dilaporkan meninggal dunia.

Selain itu, kemacetan parah pada mudik 2026 ini terjadi di Bali. Kemacetan disebabkan oleh penumpukan kendaraan roda dua maupun roda empat pada arus mudik di Pelabuhan Gilimanuk, Bali, menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.

Berdasarkan pemantauan di lokasi, antrean kendaraan yang terjadi pada Minggu (15/03) mengular hingga 30-40 kilometer. Pada Rabu (18/03), antrean memanjang hingga Pura Tirta Segara Rupek, atau sekitar delapan kilometer menuju Pelabuhan Gilimanuk.

Seorang ibu rumah tangga asal Kebumen, Jawa Tengah, dilaporkan meninggal dunia setelah pingsan saat mengantre berjam-jam di dalam bus untuk keluar dari Bali.

Bahkan sebelumnya, sebanyak 17 pemudik juga tumbang akibat kelelahan dan paparan cuaca panas saat mengantre untuk naik kapal.

Padahal, Deddy Herlambang, Peneliti Senior dari Inisiatif Strategis Transportasi (INSTRAN), telah memperingatkan jauh-jauh hari agar Kemenhub mengantisipasi kemacetan tersebut, mengingat Nyepi dan Lebaran waktunya berdekatan. (Suara.com, 19/03/2026)

Hal ini mengingatkan kita pada peristiwa mudik tahun 2016 di Tol Brexit yang menyebabkan korban jiwa akibat kemacetan parah sepanjang puluhan kilometer. Peristiwa serupa terus terjadi setiap tahun. Lantas, apa yang menyebabkan kecelakaan dan kemacetan parah yang berulang setiap tahun ini?


Tidak Ada Upaya Serius dari Pemerintah

Masalah terkait mudik ini seringkali terulang tanpa adanya upaya serius dari pemerintah untuk mengatasi kecelakaan maupun kemacetan parah. Bahkan, meskipun pemerintah sudah diperingatkan mengenai potensi masalah di Bali, mereka tidak melakukan pencegahan, hingga akhirnya ada pemudik yang kehilangan nyawanya. Betapa pemerintah mengabaikan hak kenyamanan pemudik, dan baru bertindak setelah masalah muncul.

Masalah mudik terkait erat dengan minimnya layanan transportasi yang nyaman dan murah. Terlebih, menjelang musim mudik, harga tiket seringkali meningkat. Bagi kalangan atas, hal ini mungkin tidak masalah, tetapi bagi kalangan bawah, hal ini mendorong mereka untuk mudik menggunakan kendaraan pribadi seperti sepeda motor. Akibatnya, kendaraan pribadi melampaui kapasitas jalan, yang menyebabkan kemacetan.

Selain itu, banyak jalan yang rusak, yang meningkatkan risiko kecelakaan. Hal ini wajar terjadi di negara yang menganut sistem Kapitalisme, di mana negara tidak menjalankan fungsi raa'in (pengelola rakyat) dengan baik. Akibatnya, negara abai dalam menjamin keselamatan dan nyawa rakyatnya.


Negara sebagai Raa'in

Berbeda dengan negara dalam sistem Kapitalisme, Khilafah adalah satu-satunya negara yang mewujudkan fungsi raa'in, yaitu mengurusi rakyat dan menyelesaikan semua permasalahan yang dihadapi rakyat, termasuk mudik Lebaran.

Negara Khilafah akan menyediakan layanan transportasi massal yang aman, nyaman, dan terjangkau oleh semua kalangan masyarakat, serta dalam jumlah yang mencukupi.

Negara juga akan memperbaiki jalan-jalan yang rusak dan memastikan jalanan cukup aman bagi pengguna jalan, sehingga dapat meminimalkan kecelakaan.

BBM, biaya tol, dan semua yang mendukung perjalanan mudik dalam negara Khilafah akan dipermudah aksesnya dan biayanya. Negara juga akan memfasilitasi tempat peristirahatan bagi pemudik, lengkap dengan makanan dan minuman yang memadai.

Semua ini akan dipersiapkan oleh negara karena kenyamanan adalah hak bagi setiap rakyat. Negara tidak akan membiarkan nyawa rakyat terenggut akibat ketidakmampuan negara dalam menjamin keamanan dan keselamatan para pemudik.

Hal ini bukanlah sesuatu yang mustahil dalam negara Khilafah, karena didukung oleh pendapatan negara yang fantastis, yang semuanya akan dikembalikan untuk kesejahteraan rakyat.

Bukankah mudik yang aman, nyaman, dan menyenangkan adalah hal yang diinginkan oleh setiap kita? Maka hanya dengan tegaknya Khilafah, mudik yang demikian akan terwujud.

Wallahu a'lam bish-shawab.

[] Reka Putri Aslama

Posting Komentar

0 Komentar