Sejarah

6/recent/Sejarah-posts

Header Ads Widget

Responsive Advertisement

SIYASAH INSTITUTE: DOLAR MEROKET, DAPUR RAKYAT TERHIMPIT


Direktur Siyasah Institute, Iwan Januar mengulas, menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) dapat membuat dapur rakyat terhimpit.

"Teman-teman! Mungkin di antara kita suka berpikir, kenapa sih mesti pusing mikirin dolar? Biar aja, dolar itu urusan bank, urusan para pejabat, urusan Pak Prabowo (presiden). Toh kita belanja ke warung dekat rumah pakai rupiah, kita belanja ke minimarket pakai rupiah, kita belanja bensin pun pakai rupiah. Tapi kenyataannya, setiap kali kita mendengar kabar dolar meroket, rupiah melemah, yang langsung terdampak adalah dapur rumah kita," ulasnya dalam video "Dolar Meroket, Dapur Rakyat Terhimpit" di akun TikTok @iwanjanuarcom.

Ia menuturkan, nilai tukar per dolar AS saat ini sudah nyaris menembus 18 ribu rupiah. Artinya, barang yang dulu bisa dibeli dengan 1 dolar hanya 14 ribu rupiah, sekarang harus dibayar dengan 18 ribu rupiah.

"Artinya ada nilai yang turun dan ada harga barang yang naik yang harus kita bayarkan," imbuhnya.

Yang mengerikan, lanjut Iwan, Indonesia kini banyak mengandalkan barang impor.

"Kacang kedelai, bahan baku tempe tahu yang kita makan setiap hari, itu impor. BBM, itu impor. Kemudian gandum, impor. Barang-barang elektronik, apalagi? Itu impor," ungkapnya.

"Banyak barang-barang, baik itu bahan baku ataupun barang jadi yang ternyata kita impor dari luar negeri dan semua harus dibayar dengan dolar," bebernya.

Apalagi kemudian, tambahnya, yang paling mengerikan utang Indonesia pun harus dibayar dengan dolar.

"Dan hari ini utang Indonesia hampir tembus 10 ribu triliun rupiah. Dan karena dibayar dengan dolar, maka otomatis pembayarannya pun dalam APBN kembali bertambah. Hampir 37 persen APBN Indonesia habis dipakai untuk membayar utang luar negeri, bunga dengan pokok cicilannya," bebernya lagi.

Ini berarti, kata Iwan, anggaran belanja negara untuk kepentingan rakyat seperti pembangunan itu pun akan berkurang karena sebagian besar harus dibayar untuk membayar bunga utang dan cicilan pokok utangnya yang semua menggunakan kurs mata uang dolar AS.

Jadi dengan tegas Iwan mempertanyakan, kata siapa bahwa kenaikan dolar itu tidak berdampak buat rakyat kecil?

"Ini berdampak banget. Dan juga kita melihat penyebabnya adalah bahwa hari ini kita (Indonesia) mengandalkan utang luar negeri yang semua dibayar dengan dolar," tandasnya.

Selain itu, sambungnya, Indonesia juga banyak mengandalkan impor yang mesti dibayar dengan dolar juga.

"Dan kita hanya bergantung kepada mata uang dolar. Dan semua bukan kebetulan, tetapi ada desain yang dibuat oleh negara-negara besar untuk terus melemahkan negara-negara dunia ketiga, negara berkembang, agar mereka terperangkap dalam jerat utang dan terperangkap dengan permainan dolar yang dibuat oleh Amerika Serikat," tandasnya.

Oleh karena itu, Iwan mengingatkan, umat Islam sebagai bangsa yang besar, apalagi tersebar di 50 negara dengan jumlah yang hampir 2 miliar di dunia mesti berpikir langkah apa yang semestinya dilakukan untuk mengatasi persoalan ini.
Dua Langkah Solutif Menurut Syariat

Pertama, sebutnya, adalah membangun kemandirian. Bahwa kaum muslimin, termasuk Indonesia, harus menjadi negara yang mandiri.

"Dengan sumber daya alam (SDA) yang luar biasa, mestinya kita bisa mandiri. Tidak mengandalkan impor dari luar negeri," gugahnya.

Kedua, menurutnya, Indonesia harus punya mata uang yang kuat. Dan sebetulnya Islam sudah mengajarkan dan sudah memiliki sistem mata uang yang kuat, yaitu dinar dan dirham yang berbasis emas dan perak yang nilainya relatif stabil, kuat, dan tidak bisa dipermainkan oleh bangsa lain.

"Kalau kita kaum muslimin kembali kepada ekonomi yang mandiri yang dibangun dengan syariat Islam menggunakan mata uang dinar dan dirham, maka kita akan menjadi sebuah negara yang kuat dan umat Islam menjadi umat yang kuat pula," terangnya.

Bukan umat yang sebaliknya, kata Iwan, yang bergantung kepada mata uang asing.

"Apalagi bergantung kepada utang luar negeri dan bergantung kepada produk impor yang semua menjadi alat penjajahan di tanah air," tutupnya mengakhiri.

[] Muhar

Posting Komentar

0 Komentar