
Jurnalis Joko Prasetyo, atau yang akrab disapa Om Joy, mengkritisi bahwa istilah Ekonomi Pancasila hanya hadir sebagai jargon politik, sementara praktik ekonomi yang berjalan di Indonesia pada realitasnya mencirikan kapitalisme.
“Sejak awal, istilah ekonomi Pancasila selalu hadir sebagai jargon politik, tetapi tidak pernah memiliki bentuk sistem yang jelas dan operasional,” kritiknya melalui tulisan berjudul “Ekonomi Pancasila Itu yang Seperti Apa? (Catatan Kritis atas Pidato Hari Lahir Pancasila Presiden Prabowo Subianto 2026)”, Senin (01/06/2026).
Om Joy menjelaskan, realitas ekonomi yang berjalan di Indonesia justru menunjukkan ciri-ciri kapitalisme yang sangat kuat.
“Sumber daya alam strategis tetap dikelola dengan logika investasi. Utang berbasis bunga terus menjadi tulang punggung pembiayaan negara,” bebernya.
Menurutnya, investor asing masih ditempatkan sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi. Selain itu, kebijakan ekonomi nasional juga tetap merujuk pada mekanisme pasar bebas.
“Pasar bebas tetap menjadi rujukan kebijakan. Korporasi besar tetap menguasai sektor-sektor vital,” tambahnya.
Karena itu, ia menilai, pertanyaan mendasar mengenai perbedaan antara Ekonomi Pancasila dan kapitalisme tidak bisa dihindari.
“Jika tambang nikel dikelola untuk ekspor dan keuntungan dalam mekanisme pasar global, apa bedanya dengan kapitalisme?” tanyanya.
Ia juga mempertanyakan kebijakan negara yang terus berlomba menarik investor asing sebagai motor pembangunan.
“Jika utang berbasis bunga tetap menjadi instrumen normal pembiayaan negara, apa bedanya dengan kapitalisme?”
“Jika badan investasi raksasa dibentuk untuk mengoptimalkan aset negara dalam kompetisi global, apa bedanya dengan kapitalisme?”
Lebih lanjut, Om Joy menegaskan bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab hanya dengan slogan. Sebab menurutnya, yang menjadi persoalan bukanlah niat, melainkan sistem yang diterapkan.
“Labelnya Pancasila, tetapi instrumennya kapitalisme. Bahasanya gotong royong, tetapi mekanismenya pasar bebas. Slogannya keadilan sosial, tetapi orientasinya tetap pertumbuhan, investasi, dan daya saing global,” tandasnya. [] Muhar
0 Komentar