
Menanggapi narasi bahwa kenaikan harga Pertamax hanya berdampak terhadap orang kaya dengan alasan statusnya sebagai BBM nonsubsidi, Direktur Indonesia Justice Monitor (IJM), Agung Wisnuwardana, menyebut cara berpikir tersebut justru membuat rakyat terjebak dalam lingkaran setan yang rumit.
Hal tersebut ia tegaskan dalam unggahan video berjudul "Pertamax Naik, Dompet Makin Tipis?" di akun Facebook resmi miliknya, Agung Wisnu, Sabtu (13/6/2026).
"Masalah bensin naik ini adalah masalah ruwet sistemik. Pertamax naik menjadi Rp16.250,00 per liter. Lalu, ada yang berkomentar, 'Ah santai saja, itu kan nonsubsidi. Yang kena cuma orang kaya'. Eh, sebentar, tunggu dulu! Pemikiran yang seperti inilah yang membuat kita terjebak dalam lingkaran setan," tutur Agung dalam videonya.
Ia kemudian mengajak masyarakat luas untuk lebih jeli mengamati dan meneliti keruwetan dampak di lapangan secara mendalam.
"Tahukah Anda? Kelas menengah di Indonesia itu jumlahnya mendominasi hampir 66 persen dari total populasi. Mereka adalah motor utama yang menyumbang 81 persen dari keseluruhan konsumsi rumah tangga kita," beber Agung menguraikan data sosiologis masyarakat.
Oleh karena itu, Agung mengungkapkan bahwa begitu harga Pertamax melonjak tajam hingga 32 persen, kelompok masyarakat kelas menengah tersebut terpaksa harus mengerem atau menahan anggaran belanja untuk kebutuhan yang lain.
"Efeknya, warung-warung menjadi sepi, pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) kehilangan daya beli konsumen, dan biaya logistik barang pokok otomatis ikutan naik," jelasnya.
Ia juga memperingatkan dampak domino yang jauh lebih besar jika persoalan ini tidak segera dimitigasi di hulu kebijakan.
"Belum lagi, kalau pengguna Pertamax akhirnya berbondong-bondong migrasi memakai Pertalite. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bisa jebol akibat beban subsidi yang membengkak di hilir," pungkasnya mengingatkan. [] Muhar
0 Komentar