Sejarah

6/recent/Sejarah-posts

Header Ads Widget

Responsive Advertisement

FIWS: TIGA KEPENTINGAN AS DI BALIK KESEPAKATAN NUKLIR DENGAN ARAB SAUDI


Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS), Farid Wadjdi, membeberkan tiga kepentingan utama politik luar negeri Amerika Serikat (AS) di balik kesepakatan nuklir antara AS dan Arab Saudi.

Hal itu ia sampaikan dalam program bertajuk "Mbois: Kesepakatan Nuklir AS dan Arab Saudi, Amerika Untung, Zionis Senang!" yang ditayangkan di kanal YouTube Tabloid Media Umat pada Rabu (29/7/2026).

"Tentu setiap kebijakan Amerika itu dirancang untuk kepentingan Amerika ya.., termasuk perjanjian energi nuklir ini. Pertama, mempertahankan pengaruh strategis Amerika di Timur Tengah," ujar Farid.

Kedua, lanjutnya, AS berambisi membatasi pengaruh negara-negara rival dalam persaingan menguasai kancah global.

"Amerika sangat khawatir Saudi itu bekerja sama dengan Rusia atau Cina untuk mengembangkan kemampuan nuklirnya," cetusnya.

Ketiga, kata Farid, kesepakatan tersebut bertujuan menerapkan standar nonproliferasi, yakni mencegah penyebaran senjata, teknologi, dan bahan nuklir ke negara-negara yang belum memilikinya.

"Dan standar non proliferasi ini sesungguhnya adalah standar ganda yang digunakan oleh Amerika untuk mengendalikan negara lain ya..," pesan Farid memperingatkan.

Sebab, ia menegaskan bahwa di satu sisi AS melarang negara lain memiliki dan mengembangkan kemampuan nuklir, namun di sisi lain AS sendiri terus aktif mengembangkan persenjataan nuklirnya.

"90% senjata nuklir dunia itu dikuasai oleh Amerika dan Rusia ya.., tapi negara-negara lain dicegah untuk memilikinya," ucapnya.

Melalui standar nonproliferasi tersebut, Farid menerangkan bahwa instrumen itu digunakan sebagai alat bagi AS untuk mengendalikan kepemilikan nuklir yang dinilai berpotensi mengancam kepentingannya.

"Dan ini jelas adalah standar ganda ya..," bebernya.

Farid pun mengingatkan bahwa setiap kebijakan geopolitik AS di kawasan Timur Tengah pada hakikatnya dirancang untuk mendorong negara-negara kawasan mengakui eksistensi sekutu utamanya, yakni entitas penjajah Israel—sebuah skema diplomasi yang populer dikenal sebagai normalisasi.

"Setiap normalisasi dengan penjajah Yahudi, itu berarti mengakui eksistensi penjajah Yahudi dan sekaligus itu membenarkan tindakan-tindakan kejahatan dari entitas Yahudi ini," tandasnya. [] Muhar

Posting Komentar

0 Komentar