Sejarah

6/recent/Sejarah-posts

Header Ads Widget

Responsive Advertisement

GEN Z: ANTARA ISU DEPRESI DAN JATI DIRI


Di tengah tekanan ekonomi dan tuntutan produktivitas yang kian tinggi, Generasi Z (Gen Z) mulai menunjukkan sikap yang lebih terbuka terhadap isu kesehatan mental. Berbagai survei terhadap kelompok pemuda ini menunjukkan bahwa angka kekhawatiran terhadap masa depan menjadi pemicu utama gangguan mental, dengan proporsi mencapai 60%. Kondisi psikologis ini disebabkan oleh adanya ketidakpastian yang besar terkait karier, stabilitas ekonomi, hingga kondisi global yang tidak menentu.

Selain itu, tekanan finansial juga menjadi faktor signifikan sebesar 57%, diikuti oleh ekspektasi sosial sebesar 42%, serta perasaan tidak berdaya terhadap situasi yang berada di luar kendali sebesar 36%. Dampaknya muncul dalam berbagai bentuk gangguan perilaku sehari-hari, mulai dari perubahan suasana hati (mood swings), hingga gangguan tidur seperti insomnia atau tidur berlebihan. Kecemasan berlebih dan kesulitan mengelola emosi juga menjadi tantangan berat yang kerap dihadapi oleh mereka.

Survei ini melibatkan 1.158 responden dari kalangan Gen Z yang dijaring pada 10–12 Desember 2025 melalui kuesioner daring menggunakan aplikasi seluler Jakpat. Sampel disusun berdasarkan proporsi pengguna internet di Indonesia dengan margin of error di bawah 5%, sebagaimana dilansir oleh Goodstats.id (4/4/2026). Kendati demikian, dari titik nadir kecemasan tersebut, kini perlahan muncul ombak resistensi kritis yang diprediksi mampu menjadi titik balik bagi kebangkitan generasi ini.


Kerusakan Jati Diri di Bawah Asuhan Sekularisme-Kapitalisme

Krisis multidimensional yang melanda dunia hari ini merupakan pemicu utama dari merebaknya kecemasan di kalangan Gen Z. Potensi strategis mereka sebagai pemuda penggerak zaman sengaja digerus dari berbagai arah melalui arus peradaban yang rusak. Penerapan sistem sekuleristik-kapitalistik dalam seluruh sendi kehidupan saat ini telah mereduksi martabat manusia hanya sebatas alat produksi ekonomi, mengaburkan tujuan penciptaan, dan merusak jati diri generasi muda.

Kita perlu membuka mata secara jernih bahwa fungsi pengurusan (ri'ayah) negara terhadap keselamatan mental dan fisik generasi hari ini amatlah abai. Alih-alih dirangkul, dibina akidahnya, dan diberikan solusi sistemis di hulu, generasi muda justru sering kali mendapatkan stigmatisasi buruk dari generasi pendahulunya. Mereka tak jarang dicap sebagai generasi manja, disepelekan, bahkan sekadar dijadikan bahan perbandingan yang tidak adil. Di sisi lain, modal kecemasan yang berpadu dengan sikap kritis Gen Z ini sesungguhnya dapat dikonversi menjadi peluang perubahan yang besar untuk mereka bangkit menuju kondisi tatanan kehidupan yang lebih ideal.


Konsep Penjagaan Generasi dalam Sistem Islam

Islam hadir dengan perangkat aturan yang komprehensif sebagai solusi mutlak atas segala krisis yang melanda peradaban dunia. Karakteristik ini selaras dengan firman Allah SWT di dalam Al-Qur'an:

ÙˆَÙ…َا Ø£َرْسَÙ„ْÙ†َاكَ Ø¥ِÙ„َّا رَØ­ْÙ…َØ©ً Ù„ِÙ„ْعَالَÙ…ِينَ
Artinya: “Dan tidaklah Kami mengutusmu (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107).

Ayat mulia ini menegaskan bahwa misi utama Nabi Muhammad ï·º membawa risalah Islam tak lain adalah untuk menebarkan kedamaian, keadilan, dan kebaikan bagi seluruh umat manusia beserta semesta alam, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Penjagaan ini secara otomatis mencakup perlindungan total terhadap aspek kesehatan mental dan fisik generasi muda.

Apabila kita melirik pada fakta sejarah, dapat kita jumpai bahwa sosok generasi muda di masa kejayaan Islam sangat kuat. Mereka memiliki kepribadian Islam (syakhshiyah Islamiyah) yang kokoh sekaligus cakap dan ahli dalam berbagai bidang keilmuan sains. Tatanan ideal tersebut dapat tercipta karena adanya kehadiran negara Islam (Khilafah), yang menjalankan peran mutlaknya sebagai pelindung (junnah) dan pelayan umat (khadimul ummah) yang menjamin pemenuhan kebutuhan hidup secara adil dan merata.


Kesimpulan

Oleh karena itu, demi menyelamatkan Gen Z dari labirin depresi sistemik, kita wajib menggalakkan upaya penyadaran ideologis terhadap pemuda hari ini agar mereka mau mengemban dan memperjuangkan kembali ideologi Islam (mabda' Islam), serta memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kondisi umat. Langkah politik dan dakwah inilah yang akan mengubah masa depan emas peradaban bukan lagi sebatas angan-angan kosmetik nan ilusi, melainkan menjadi sebuah kenyataan sejarah yang diridai oleh kemuliaan Ilahi.

Wallahu a'lam bish-shawab.

[] Rida Asnuryah | Ibu Rumah Tangga

Posting Komentar

0 Komentar