
Berbagai hasil survei nasional maupun global menunjukkan bahwa Generasi Z (Gen Z) di Indonesia menjadi kelompok yang paling rentan mengalami kecemasan massal dan gangguan kesehatan mental. Faktor pemicunya sangat beragam, mulai dari dampak destruktif arus media sosial hingga beratnya tekanan sosial di lingkungan sekitar. Fenomena mengkhawatirkan ini telah menggejala di seluruh dunia, di mana bayang-bayang ketidakpastian karier dan masa depan yang suram membuat Gen Z cenderung bersikap lebih skeptis terhadap narasi kesejahteraan saat ini. Namun, dari titik nadir kecemasan tersebut, kini perlahan muncul gelombang resistensi kritis yang diprediksi mampu menjadi titik balik bagi kebangkitan generasi ini.
Krisis kesehatan mental yang terjadi hari ini sesungguhnya merupakan akumulasi dari masalah multidimensi yang melanda peradaban modern. Potensi besar Gen Z yang seharusnya bertindak sebagai agen perubahan (agent of change) telah dilemahkan dari berbagai arah. Jati diri dan fitrah mereka digerus oleh nilai-nilai sekularisme-kapitalisme yang materialistis.
Kondisi ini diperparah oleh abainya fungsi pengurusan (ri'ayah) negara terhadap pemenuhan hak-hak generasi muda. Alih-alih dirangkul dan diberikan solusi sistemis di hulu, generasi muda justru sering kali mendapatkan stigmatisasi buruk dari generasi di atasnya sebagai generasi yang manja dan rapuh. Di sisi lain, modal kecemasan yang berpadu dengan sikap kritis Gen Z ini sebenarnya dapat dikonversi menjadi peluang perubahan yang besar, guna mengantarkan mereka bangkit menuju kondisi kehidupan yang lebih ideal.
Visi Politik Islam dalam Mengatasi Krisis Generasi
Islam hadir dengan seperangkat aturan baku yang mampu mengatasi krisis multidimensi yang dihadapi dunia saat ini. Penerapan syariat Islam secara menyeluruh (kaffah) dipastikan akan mendatangkan rahmatan lil 'alamin (rahmat bagi seluruh alam), sehingga mampu membawa ketenangan jiwa sekaligus keselamatan hidup bagi umat manusia. Berkaca pada sejarah, karakteristik generasi muda di masa kejayaan Islam berdiri dengan sangat kokoh. Mereka tidak hanya memiliki kepribadian Islam (syakhshiyah Islamiyah) yang matang, melainkan juga sangat cakap dan unggul dalam berbagai bidang keilmuan sains.
Keunggulan generasi tersebut dapat mewujud secara nyata karena adanya kehadiran institusi negara yang berfungsi sebagai pelindung (junnah) dan pelayan umat (khadimul ummah) yang menjamin pemenuhan kebutuhan dasar hidup secara adil dan merata. Ekosistem yang bersih dari kemaksiatan inilah yang akan menyadarkan para pemuda hari ini untuk mengemban ideologi Islam, serta memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kondisi umat. Dengan demikian, visi masa depan emas peradaban bukan lagi sebatas angan-angan kosmetik di atas kertas.
Potret Pendidikan Pemuda Produktif pada Masa Keemasan Islam
Profil pemuda tangguh di masa peradaban Islam lahir dari keterpaduan sistem pendidikan yang sinergis di ranah domestik keluarga, kontrol sosial masyarakat, hingga kebijakan strategis negara. Sejak masa Rasulullah ﷺ, era Khulafaurrasyidin, hingga kekhalifahan Utsmaniyah, pemuda Islam dididik melalui pembinaan akidah yang intensif guna menguatkan iman. Mereka dituntun untuk menghafal serta memahami kandungan Al-Qur'an sejak usia dini, berguru kepada banyak ulama, serta menanamkan adab dan rasa tawaduk yang tinggi terhadap ilmu.
Negara juga memberikan kurikulum pendidikan fisik untuk membentuk kesiapan mental dan ketangkasan melalui latihan memanah, berkuda, hingga kemandirian untuk terjun langsung di medan juang. Dampaknya, lahir generasi pemuda yang sangat produktif dan memiliki keahlian (skill) tinggi sebagai pedagang jujur, ilmuwan terkemuka, dokter ahli, hingga insinyur bangunan. Di samping itu, mereka memiliki ghirah (cemburu agama) yang tinggi; peka terhadap penderitaan kaum muslim, menjaga kehormatan diri, serta aktif menyuarakan aktivitas amar makruf nahi mungkar. Pemuda Islam tumbuh sebagai pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, serta seimbang dalam mencintai ilmu dunia dan akhirat.
Institusi Khilafah mendesain pemuda Islam untuk dipersiapkan menjadi pemimpin umat, panglima perang, ulama mutakallimin, serta kepala rumah tangga yang tangguh, bukan sekadar dijadikan konsumen komoditas pasar atau pengikut tren hedonistik yang semu. Sosiolog terkemuka Islam, Ibnu Khaldun, dalam kitab Muqaddimah-nya menggarisbawahi sebuah kaidah sosiologis bahwa hancurnya suatu peradaban besar selalu dimulai dari hancurnya moralitas para pemudanya. Oleh karena itu, menjaga kesucian generasi merupakan agenda politik luar negeri dan dalam negeri yang sangat vital bagi Khilafah demi memastikan keberlangsungan peradaban mulia.
Islam telah menorehkan tinta emas sejarah dengan melahirkan deretan pemuda legendaris pembentuk peradaban, di antaranya:
- Usamah bin Zaid: Diangkat menjadi panglima militer tertinggi memimpin pasukan kaum muslim melawan imperium Romawi pada usia yang masih sangat muda, yaitu 18 tahun.
- Muhammad al-Fatih: Berhasil memimpin strategi militer jenius untuk menaklukkan benteng terkuat di dunia, Konstantinopel, pada usia 21 tahun.
- Salahuddin al-Ayyubi: Menginisiasi pembebasan tanah suci Baitulmaqdis (Yerusalem) dari cengkeraman pasukan Salib melalui konsolidasi politik yang matang di usia mudanya.
Kesimpulan
Sejarah membuktikan secara empiris bahwa peradaban Islam pernah memimpin dunia selama kurang lebih 14 abad lamanya. Khilafah sukses menorehkan kegemilangan peradaban dengan melahirkan ribuan ilmuwan dan ulama karena kurikulum negaranya berhasil mengintegrasikan sains dengan tsaqafah Islam secara sempurna.
Oleh karena itu, satu-satunya jalan fundamental untuk menyelamatkan Gen Z dari labirin depresi sistemik saat ini adalah dengan mengembalikan kembali kehidupan Islam ke tengah-tengah umat. Kita wajib menyambut seruan Allah SWT untuk menerapkan syariat secara totalitas dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208).
Wallahu a'lam bish-shawab.
[] Ummu Zaid
0 Komentar