Sejarah

6/recent/Sejarah-posts

Header Ads Widget

Responsive Advertisement

GENCATAN SENJATA PALSU, PEMBUNUHAN TERUS BERLANJUT DI GAZA


Korban tewas akibat agresi militer Israel dilaporkan telah melampaui angka 1.000 jiwa sejak kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat (AS) diberlakukan pada Oktober 2025 lalu. Entitas Zionis secara sistematis terus melakukan pelanggaran gencatan senjata di lapangan, sementara AS bertindak sebagai penjamin sekaligus sponsor utama yang konsisten menyuplai bantuan militer, finansial, dan diplomatik dengan cara apa pun.


Ilusi Gencatan Senjata sebagai Topeng Politik Barat

Realitas empiris ini membuktikan bahwa gencatan senjata tidak pernah benar-benar dirancang untuk menciptakan perdamaian yang hakiki. Narasi tersebut tak lebih dari sekadar strategi politik Barat untuk meredakan gejolak opini dunia, sambil membiarkan militer Zionis terus melakukan pembantaian warga sipil secara terukur dan terkendali. Mengandalkan AS yang berstatus sebagai penjamin sekaligus sekutu abadi Zionis untuk bertindak adil adalah sebuah kemustahilan.

Berharap kepada negara kapitalis penjajah untuk mengurusi dan menolong umat Islam merupakan kesalahan fatal yang justru akan melanggengkan imperialisme mereka di negeri-negeri muslim. Oleh karena itu, akar masalah yang sesungguhnya bukanlah terletak pada pelanggaran perjanjian teknis di hilir, melainkan pada ketiadaan junnah (perisai) yang berkewajiban melindungi darah dan kehormatan umat Islam, yaitu institusi Khilafah Islamiah.


Urgensi Persatuan Umat dan Kewajiban Jihad

Kaum muslim diharamkan berharap apalagi menggantungkan nasib dan keselamatannya kepada hegemoni negara kafir serta musuh-musuh Islam. Sudah saatnya umat Islam mengambil solusi mandiri yang bersumber dari hukum syarak dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam menyelesaikan problem penjajahan di Palestina.

Satu-satunya solusi syar'i untuk membebaskan Palestina semata-mata hanyalah melalui institusi jihad fi sabilillah guna mengusir penjajah Zionis dari tanah wakaf kaum muslim. Mobilisasi militer ini merupakan kewajiban fardhu yang melekat pada pundak umat. Aktivitas jihad fi sabilillah akan memiliki kekuatan yang luar biasa dan mampu membalikkan peta geopolitik global apabila seluruh potensi umat bersatu di bawah naungan komando politik tunggal Khilafah. Umat wajib bergerak bersama memperjuangkan kembalinya Khilafah sebagai perisai yang akan menjaga setiap jengkal tanah kaum muslim.


Pelajaran Historis Kemenangan Salahuddin al-Ayyubi

Sejarah emas Islam telah memberikan teladan nyata bagaimana pembebasan Palestina pernah dilakukan oleh pemimpin agung terdengar, yaitu Panglima Salahuddin al-Ayyubi pada tahun 1187 M (583 H). Sebelum pembebasan tersebut, wilayah Palestina telah dikuasai dan dijajah oleh tentara Salib selama 88 tahun sejak tahun 1099 M. Pada masa kelam penjajahan itu, kesucian Masjidilaksa dinodai dengan dialihfungsikan menjadi gereja, sementara penduduk muslim diusir secara paksa.

Salahuddin al-Ayyubi kemudian memimpin pasukan kaum muslim sebanyak 30.000 personel untuk menghadapi 20.000 pasukan Salib dalam Perang Hittin yang legendaris. Pasukan Islam mengepung tembok Yerusalem dari empat arah strategis. Demi menghindari pertumpahan darah yang tidak perlu, Salahuddin memberikan opsi perintah agar pasukan Salib menyerah secara damai dengan jaminan keselamatan fisik.

Akhirnya, pada tanggal 2 Oktober 1187 M, tentara Salib mengaku kalah dan menyerahkan kunci kota Yerusalem kembali ke pangkuan umat Islam. Rasa syukur atas kemenangan ideologis ini langsung digemakan melalui kumandang azan perdana di menara Masjidilaksa. Simbol-simbol penodaan dibersihkan, dan tempat suci tersebut dikembalikan fungsinya sebagai masjid umat Islam. Atas kemenangan akbar ini, Salahuddin al-Ayyubi dengan penuh ketakwaan berpesan: “Allah SWT menitipkan kemenangan ini bukan karena aku kuat, melainkan karena janji-Nya adalah benar.

Penting untuk dicatat bahwa Salahuddin membebaskan Palestina bukan sekadar mengandalkan kekuatan pedang atau keberanian individu prajurit semata. Perjuangan tersebut berhasil karena disokong oleh eksistensi negara dan adanya institusi Khalifah yang memberikan komando jihad secara resmi. Keberhasilan itu merupakan buah keterpaduan antara strategi perang yang matang, kesiapan logistik yang mandiri, serta keluhuran akhlak tentara Islam yang merindukan syahid di jalan Allah SWT.


Fajar Khilafah dan Kemenangan yang Nyata

Dengan keimanan yang kokoh, bumi Palestina dipastikan akan dibebaskan kembali dari cengkeraman penjajah oleh umat Islam di bawah satu kepemimpinan tunggal, yaitu Khilafah Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian. Tentara Islam yang bertakwa akan mengalahkan entitas Zionis beserta seluruh koalisi negara sekutunya, sekaligus membersihkan bumi Al-Aqsa dari segala bentuk penindasan. Fajar kemenangan Khilafah akan segera terbit, dan umat Islam akan menyambutnya dengan penuh kegembiraan.

Allah SWT memberikan kabar gembira mengenai kepastian datangnya pertolongan dan kemenangan dalam firman-Nya:

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا * لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا * وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا
Artinya:
  • Sungguh, Kami telah memberimu kemenangan yang nyata,
  • Agar Allah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan menunjukkanmu ke jalan yang lurus,
  • Dan agar Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).” (QS. Al-Fath: 1-3).

Wallahu a'lam bish-shawab.

[] Ummu Zaid

Posting Komentar

0 Komentar