
Pakar Biologi Molekuler Ahmad Rusdan H. Utomo, Ph.D. mengemukakan bahwa faktor genetik bukan penyebab utama perilaku homoseksual.
"Kalau dari gen itu sendiri untuk akhirnya menimbulkan perilaku, berarti yang melampiaskan hasrat tersebut itu bisa dibilang kecil sekali," tuturnya dalam program FOKUS: Pro Kontra Sanksi Keras terhadap LGBT di kanal YouTube UIY Official, Ahad (5/7/2026).
Ia menjelaskan bahwa hasil penelitian ilmiah harus dipahami secara tepat agar tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru di tengah masyarakat. Menurutnya, berbagai penelitian yang ada saat ini hanya menunjukkan adanya hubungan (asosiasi) secara statistik, bukan membuktikan bahwa gen tertentu menjadi penyebab (kausalitas) seseorang berperilaku homoseksual.
Sejumlah penelitian, lanjutnya, memang menemukan hubungan yang bermakna secara statistik antara variasi gen tertentu dengan kelompok homoseksual. Namun, menurut Ahmad Rusdan, kemaknaan statistik tersebut tidak selalu berarti memiliki dampak atau pengaruh besar dalam kehidupan nyata.
"Jadi, kita hanya bisa mengatakan ini ada hubungan yang signifikan secara statistik. Ada beberapa gen yang memang bermakna, tapi effect size-nya itu kecil sekali," ungkapnya.
Ahmad Rusdan menambahkan, penelitian yang selama ini banyak dijadikan rujukan merupakan penelitian observasional dengan desain case-control, yakni membandingkan kelompok heteroseksual dan homoseksual untuk melihat perbedaan proporsi gen tertentu. Ia menegaskan bahwa desain penelitian semacam itu tidak pernah dirancang untuk membuktikan hubungan sebab-akibat.
"Kita enggak bisa mengatakan bahwa gen ini, kalaupun ini bermakna, kita enggak bisa mengatakan ini menyebabkan (perilaku penyimpangan seksual)," tegasnya.
Dalam penjelasannya, Ahmad Rusdan mengingatkan pentingnya membedakan konsep asosiasi dengan kausalitas dalam literasi penelitian ilmiah. Ia menilai masih banyak pihak yang keliru menafsirkan hasil penelitian sehingga menarik kesimpulan yang berlebihan.
"Konsep asosiasi itu bukan konsep kausalitas," nilainya.
Untuk memudahkan pemahaman publik, ia memberikan ilustrasi sederhana mengenai hubungan antara besarnya tingkat kebakaran dengan jumlah mobil pemadam kebakaran yang diterjunkan ke lokasi.
"Semakin besar api, semakin banyak Damkar (pemadam kebakaran). Tapi boleh enggak kita mengatakan Damkar menyebabkan api? Tidak," terangnya.
Ia menilai analogi tersebut membuktikan secara logis bahwa dua hal yang berhubungan secara statistik belum tentu memiliki hubungan sebab-akibat. Lebih lanjut, Ahmad Rusdan mengatakan bahwa keberadaan variasi gen tertentu pada seseorang sejak lahir juga tidak dapat dijadikan dasar untuk memprediksi orientasi seksualnya di masa depan.
"Kita juga enggak bisa mengatakan dengan pasti kalau ada orang lahir... Kita enggak bisa memprediksi secara tepat ini pasti akan jadi homoseksual. Enggak bisa, kecil banget," sebutnya.
Para peneliti dunia yang mengkaji topik tersebut, ungkapnya, juga telah sepakat bahwa bukti ilmiah yang ada hingga saat ini belum mampu membuktikan hubungan kausal antara faktor genetik dengan perilaku homoseksual.
Oleh karena itu, Ahmad Rusdan mengingatkan agar masyarakat tidak mudah memberikan stigma negatif kepada seseorang hanya berdasarkan penampilan atau karakter fisiknya semata.
"Kita makanya hanya dari fenotipe saja itu agak susah untuk dijadikan sebagai bukti utama. Kalau saya sih itu nanti cenderung ke stigmatisasi. Itu harus hati-hati, ya. Itu pandangan saya secara keilmuan," pungkasnya. [] Muhar
0 Komentar