
Akademisi Chusnul Mar’iyah, Ph.D. menilai Indonesia sudah dijual kepada asing.
"Dalam memperingati 81 tahun kemerdekaan ini, perlu kembali mengaudit sejauh mana tujuan bernegara tercapai, dengan melihat kedaulatan budaya, politik, wilayah, ekonomi, serta integritas bangsa. Dari semua indikator tersebut, negara Indonesia sudah dijual kepada asing dengan harga murah tanpa rasa malu, terutama pada era reformasi," nilainya, dikutip dari Tabloid Media Umat Edisi 410, dalam Rubrik Aspirasi, Jumat (21/8/2026).
"Sumber daya alam (SDA) diserahkan kepada asing, sementara rakyat di wilayah SDA tidak disediakan penghidupan yang layak," kritiknya.
Ia lantas membeberkan bahwa segelintir elite menguasai lahan SDA nikel, batu bara, hutan, dan sawit.
"Wilayah Indonesia sudah di kavling-kavling. Masyarakat lokal hanya melihat dan terkena dampaknya, misalnya dengan kehadiran banyak TKA Cina di wilayah industri tambang nikel di Sulawesi," sesalnya menambahkan.
Pada dasarnya, Chusnul berpandangan, Indonesia mengalami krisis multidimensi sejak era Soekarno, Soeharto, dan secara terbuka di era reformasi.
"Kita tidak merdeka di semua lini kedaulatan," tegasnya.
Ia menyebut bahwa ada sistem jahat dunia sehingga dunia dikavling-kavling menggunakan regulasi dengan pasal-pasal yang sepertinya demokratis dan ilmiah, tetapi sesungguhnya merupakan implementasi ideologi liberalisme.
"Penjajahan modern tidak lagi menggunakan pemerintahan, tetapi melalui intervensi pembuatan undang-undang dan penguasaan SDA menggunakan diksi ilmiah seperti equity inclusion, human security, sustainability dan development (kesetaraan, inklusi, keamanan manusia, keberlanjutan dan pembangunan)," pungkasnya. [] Muhar
0 Komentar