Sejarah

6/recent/Sejarah-posts

Header Ads Widget

Responsive Advertisement

DMDI: MENGAPA HARI INI UMAT BEGITU MUDAH MELUPAKAN PENDERITAAN DI GAZA?


Dewan Masjid Digital Indonesia (DMDI) mempertanyakan mengapa hari ini umat Islam begitu mudah melupakan penderitaan saudaranya di Gaza-Palestina.

"Pernahkah kita bertanya kepada diri kita sendiri, mengapa hari ini kita begitu mudah melupakan penderitaan saudara-saudara kita di Gaza? Apakah karena jaraknya yang jauh? Ataukah karena berita tentang mereka sudah tidak lagi memenuhi layar-layar media?" tanyanya dalam rilis Naskah Khutbah Jumat (Edisi 32-2026) berjudul Ingat! Derita Gaza Masih Belum Sirna melalui seruanmasjid.com, yang diterima Dakwah Tangsel pada Kamis (6/8/2026).

Pasalnya DMDI membeberkan, hingga awal Agustus ini, serangan Israel masih terus menggempur Kota Gaza, Deir al-Balah, dan Khan Younis.

"Sejak Oktober 2023, lebih dari 73 ribu warga Palestina telah gugur dan lebih dari 174 ribu lainnya terluka. Korbannya didominasi anak-anak, perempuan, lansia, dan warga sipil. PBB juga mencatat rata-rata 47 perempuan dan anak perempuan meninggal setiap hari, sementara sekitar 80 persen bangunan di Gaza telah hancur," sesalnya.

Di tengah tragedi kemanusiaan yang begitu memilukan ini, DMDI melanjutkan, dunia seolah hanya mampu menyaksikan. Berbagai kecaman dari sejumlah negara belum mampu menghentikan agresi Israel. Keberadaan Board of Peace (BOP) pun tidak memberikan tindakan nyata untuk menghentikan genosida maupun pencaplokan wilayah Gaza.

"Karena itu, kita patut merenung, jika darah kaum Muslim terus tertumpah, kehormatan mereka terus dinodai, dan tanah mereka terus dirampas, apakah kita akan tetap menjadi penonton? Jangan sampai Gaza hanya kita ingat ketika menjadi berita, lalu kita lupakan ketika perhatian dunia beralih. Sebab, penderitaan mereka belum sirna, dan kepedulian umat tidak boleh ikut sirna," terangnya.


DMDI pun mengingatkan

bahwa Islam tidak mengajarkan umatnya menjadi penonton ketika saudara seiman dizalimi.

Rasulullah SAW bersabda,

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ مَنْ كَانَ فِيْ حَاجَةِ أَخِيْهِ كَانَ اللَّهُ فِيْ حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak boleh menzalimi saudaranya itu dan membiarkan dirinya. Siapa saja yang memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya. Siapa saja yang menghilangkan kesulitan dari seorang Muslim, Allah akan menghilangkan kesulitan dari dirinya pada Hari Kiamat. Siapa saja yang menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya pada Hari Kiamat” (HR Muslim).

Karena itu, simpulnya, membela kaum Muslim yang tertindas merupakan bagian dari konsekuensi ukhuwah Islamiyah. Seandainya para pemimpin negeri-negeri Muslim bersatu mengambil langkah nyata terhadap Israel, tentu mereka memiliki kekuatan untuk memberi tekanan. Namun hingga kini hal itu belum terwujud. Padahal Allah SWT berfirman:

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُّؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ يُوَاۤدُّوْنَ مَنْ حَاۤدَّ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَوْ كَانُوْٓا اٰبَاۤءَهُمْ اَوْ اَبْنَاۤءَهُمْ اَوْ اِخْوَانَهُمْ اَوْ عَشِيْرَتَهُمْۗ
Kamu tidak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara, ataupun keluarga mereka” (QS. al-Mujâdalah [58]: 22).


Harus Diselesaikan dengan Hukum Allah

Selain itu, DMDI juga mengingatkan, sebagai orang beriman setiap persoalan seharusnya diselesaikan dengan hukum Allah, bukan pertimbangan akal atau kepentingan politik. Allah SWT berfirman,

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗٓ اَمْرًا اَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْۗ وَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيْنًاۗ
Tidaklah patut bagi laki-laki dan perempuan Mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, mereka memiliki pilihan lain dalam urusan mereka” (QS. al-Ahzâb [33]: 36).

Terkait agresi dan genosida di Gaza, DMDI menjelaskan bahwa Al-Qur'an memerintahkan kaum Muslimin untuk melakukan jihad defensif terhadap pihak yang menyerang, sebagaimana firman-Nya:

فَمَنِ اعْتَدٰى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوْا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدٰى عَلَيْكُمْۖ
Siapa yang menyerang kalian, maka seranglah ia seimbang dengan serangannya terhadap kalian” (QS. al-Baqarah [2]: 194), serta,

وَاقْتُلُوْهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوْهُمْ وَاَخْرِجُوْهُمْ مِّنْ حَيْثُ اَخْرَجُوْكُمْ
Perangilah mereka di mana saja kalian menjumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian” (QS. al-Baqarah [2]: 191).

Qadhi Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahulLâh dalam Asy-Syakhsiyyah al-Islâmiyyah Jilid 2, sebutnya, menjelaskan bahwa jihad menjadi fardu 'ain ketika negeri kaum Muslim diserang. Karena itu, berdiam diri, tidak menggerakkan jihad, maupun menjalin hubungan yang mengokohkan Israel merupakan perbuatan dosa besar yang pelakunya di ancam siksaan di Neraka

"Serulah para pemimpin Anda agar mengerahkan pasukan untuk berjihad fi sabilillah mengusir Israel! Wajib bagi para pemimpin Dunia Islam untuk membebaskan tanah Palestina dengan kekuatan militer. Sungguh mereka akan menghadap Allah SWT dengan hisab yang amat berat atas sikap diam atau membatasi diri hanya dengan retorika kosong. Mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap darah Muslim yang tumpah di sana. Padahal mereka mempunyai kekuasaan dan kekuatan untuk menghentikan genosida di Gaza. Ya Allah, kami telah menyampaikan! Saksikanlah! Wallâhu a‘lam bish-shawâb," tutupnya. [] Abu Jannah

Posting Komentar

0 Komentar