Sejarah

6/recent/Sejarah-posts

Header Ads Widget

Responsive Advertisement

JANJI ALLAH TENTANG KEMENANGAN ISLAM, DAN KEWAJIBAN MENEGAKKANNYA


Janji Allah SWT adalah sesuatu yang pasti. Ia tidak pernah meleset dan tidak pernah berubah. Karena itu, seorang muslim tidak boleh menjadikan realitas sebagai ukuran untuk menilai benar atau tidaknya janji Allah. Justru keimanan menuntut seorang muslim meyakini kebenaran janji Allah, sekalipun realitas yang disaksikan hari ini seolah bertolak belakang dengannya.

Allah SWT telah berjanji akan memenangkan agama-Nya atas seluruh agama yang ada. Allah SWT berfirman:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
Artinya: “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS. At-Taubah: 33).

Janji serupa juga ditegaskan dalam QS. Al-Fath: 28 dan QS. Ash-Shaff: 9.

Janji tersebut telah terbukti pada masa Rasulullah ﷺ. Islam berhasil mengungguli berbagai agama dan keyakinan yang ada ketika itu. Rasulullah ﷺ tidak hanya menyampaikan ajaran Islam sebagai ibadah individual, melainkan juga menegakkan Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Pada masa itu, kapitalisme dan sosialisme sebagai ideologi belum lahir. Namun, dalam perkembangan sejarah berikutnya, muncul berbagai ideologi yang menjadi dasar pengaturan kehidupan manusia. Islam kemudian mengalami kemunduran politik hingga institusi Khilafah yang menjadi wadah penerapan syariat Islam runtuh pada 3 Maret 1924.

Sejak saat itu, umat Islam hidup dalam kondisi ketika hukum dan sistem kehidupan yang dominan bukan lagi Islam. Kapitalisme menjadi ideologi yang dominan di berbagai belahan dunia, sementara sosialisme dan kemudian komunisme juga pernah menjadi kekuatan ideologis yang besar.

Namun, keadaan tersebut tidak boleh membuat umat kehilangan keyakinan terhadap janji Allah SWT.


Janji Allah Tidak Pernah Gagal

Bagi seorang muslim, kemenangan Islam bukan sekadar optimisme politik. Ia merupakan bagian dari keimanan terhadap janji Allah SWT.

Allah SWT juga menjanjikan kekuasaan kepada orang-orang beriman dan beramal saleh. Dalam QS. An-Nur: 55, Allah SWT berfirman tentang janji memberikan kekuasaan kepada orang-orang yang beriman, beramal saleh, meneguhkan agama yang diridai-Nya, serta mengganti keadaan mereka dari ketakutan menjadi keamanan.

Janji tersebut diperkuat oleh kabar Rasulullah ﷺ tentang fase-fase perjalanan umat Islam, sebagaimana diriwayatkan antara lain oleh Imam Ahmad dari An-Nu'man bin Basyir RA.

Karena itu, persoalan paling mendasar yang harus dibangun kembali di tengah umat adalah keyakinan terhadap perkara gaib, khususnya terhadap janji Allah SWT (wa'dullah) dan kabar gembira dari Rasulullah ﷺ (busyra Rasulillah).

Umat tidak boleh kehilangan keyakinan hanya karena realitas hari ini menunjukkan keadaan yang berbeda. Allah SWT telah mengingatkan:

فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ
Artinya: “...Maka janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kehidupan dunia dan janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh penipu dalam menaati Allah.” (QS. Fathir: 5).

Realitas bukanlah sumber kebenaran. Kebenaran bersumber dari wahyu. Ketika realitas bertentangan dengan wahyu, maka yang harus dikoreksi bukanlah wahyunya, melainkan cara manusia memahami dan menyikapi realitas.


Menegakkan Islam Bukan Pilihan, melainkan Kewajiban

Keyakinan terhadap janji Allah tidak boleh berhenti sebagai keyakinan di dalam hati semata. Keimanan harus melahirkan konsekuensi berupa amal.

Menegakkan Islam dalam kehidupan merupakan bagian dari kewajiban yang harus diperjuangkan umat. Allah SWT tidak membiarkan manusia mencari jalan sendiri dalam mewujudkan kehidupan Islam. Allah SWT telah mengutus Rasulullah ﷺ sekaligus memberikan contoh bagaimana perjuangan tersebut dilakukan.

Rasulullah ﷺ memulai dakwah di Makkah selama kurang lebih 13 tahun. Beliau membina para sahabat, membentuk kepribadian mereka dengan Islam, menanamkan akidah yang kokoh, serta membangun kesadaran dan pemikiran Islam.

Setelah itu, perjuangan memasuki fase Madinah. Di sana Islam tidak hanya menjadi keyakinan individual, melainkan menjadi dasar pengaturan kehidupan masyarakat dan negara. Rasulullah ﷺ memimpin masyarakat dengan Islam selama kurang lebih 10 tahun hingga beliau wafat.

Dengan demikian, perjalanan Rasulullah ﷺ merupakan thariqah atau metode (jalan/cara baku) yang memberikan tuntunan bagi umat dalam memperjuangkan tegaknya Islam.

Allah SWT berfirman:

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي
Artinya: “Katakanlah (Muhammad), ‘Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata...’” (QS. Yusuf: 108).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa perjuangan menegakkan Islam membutuhkan jalan yang jelas, bukan sekadar semangat dan keinginan.


Islam Memiliki Fikrah dan Thariqah

Islam bukan sekadar agama ritual yang mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT secara individual. Islam memiliki konsepsi kehidupan yang menyeluruh.

Sebagai ideologi (mabda'), Islam memiliki fikrah dan thariqah: pemikiran yang menjadi solusi dan metode untuk menerapkan solusi tersebut. Islam memiliki seperangkat konsep mengenai pemerintahan, politik, ekonomi, sosial, pendidikan, hukum, peradilan, hubungan luar negeri, dan berbagai aspek kehidupan lainnya.

Karena itu, perjuangan Islam tidak cukup hanya dengan mengajak manusia menjadi baik secara individual. Umat juga membutuhkan pemahaman tentang bagaimana Islam mengatur kehidupan secara menyeluruh.

Inilah yang semestinya menjadi master plan umat sekaligus road map perjuangan.

Rasulullah ﷺ pun tidak berjuang seorang diri. Beliau membangun jemaah, mendidik para sahabat, membentuk kepribadian mereka, dan mempersiapkan generasi yang memiliki 'aqliyyah (pola pikir) dan nafsiyyah (pola sikap) Islam. Mereka bukan sekadar orang-orang yang mengetahui Islam, melainkan juga memiliki kesiapan untuk berkorban dan menghadapi berbagai kesulitan dalam perjuangan.

Setelah perjuangan panjang di Makkah, Allah SWT memberikan pertolongan. Di Madinah, Islam memiliki kekuasaan yang memungkinkan syariat diterapkan secara menyeluruh. Kepemimpinan Rasulullah ﷺ kemudian dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin dan generasi setelahnya dalam institusi Khilafah hingga akhirnya runtuh pada 3 Maret 1924.

Sejarah tersebut menunjukkan bahwa perubahan besar tidak lahir dari angan-angan. Ia membutuhkan dakwah, pembinaan, perjuangan, jemaah, kesiapan kader, serta pertolongan Allah SWT.


Jangan Silau oleh Realitas

Tantangan terbesar umat hari ini bukan hanya dominasi ideologi selain Islam. Tantangan yang lebih mendasar adalah ketika umat mulai kehilangan keyakinan bahwa Islam mampu dan akan kembali memimpin kehidupan.

Ketika umat melihat kuatnya sistem kapitalisme, dominannya negara-negara besar, lemahnya posisi politik kaum muslim, serta berbagai persoalan internal umat, sebagian orang kemudian menganggap perubahan menuju kehidupan Islam sebagai sesuatu yang mustahil. Cara pandang seperti ini justru sangat berbahaya.

Seorang muslim harus memahami bahwa tugas manusia adalah beramal dan berjuang, sedangkan hasil akhirnya merupakan urusan Allah SWT. Manusia tidak diperintahkan untuk memastikan kapan kemenangan itu datang. Manusia diperintahkan untuk menjalankan kewajibannya.

Karena itu, yang harus dibangun dalam diri umat setidaknya dua sikap:

Keyakinan bahwa Allah pasti menyampaikan urusan-Nya. Allah SWT berfirman:

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Artinya: “...Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. At-Talaq: 3).

Tawakal yang disertai ikhtiar terbaik. Tawakal bukan alasan untuk berhenti bergerak. Sebaliknya, keyakinan kepada pertolongan Allah SWT seharusnya menjadi energi untuk terus melakukan amal terbaik. Seorang muslim berusaha semaksimal mungkin, mengikuti metode yang ditunjukkan Rasulullah ﷺ, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.


Tugas Kita adalah Berjuang

Pada akhirnya, kemenangan Islam bukan sesuatu yang layak diragukan hanya karena belum terlihat dalam realitas hari ini. Janji Allah SWT tetap benar, baik manusia menyaksikannya maupun tidak.

Yang menjadi persoalan adalah apakah kita telah mengambil bagian dalam perjuangan untuk menegakkan agama Allah SWT atau justru menjadi orang yang pasif menyaksikan perubahan zaman.

Umat membutuhkan keyakinan yang kokoh terhadap wa'dullah dan busyra Rasulillah. Keyakinan tersebut harus melahirkan kesadaran bahwa Islam wajib diperjuangkan dalam seluruh aspek kehidupan.

Setelah seluruh ikhtiar terbaik dilakukan, hasilnya diserahkan kepada Allah SWT. Sebab, kemenangan bukan berada di tangan manusia; kemenangan adalah pertolongan Allah SWT.

Tugas kita adalah beriman, berdakwah, membina umat, berjuang dengan metode yang ditunjukkan Rasulullah ﷺ, dan terus istiqamah hingga Allah SWT menentukan hasilnya.

Allah SWT pasti menepati janji-Nya. Persoalannya, apakah kita akan menjadi bagian dari orang-orang yang memperjuangkan agama-Nya ketika pertolongan itu datang?

Wallahu a'lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar