
Lebih dari 48 persen Generasi Z (Gen Z) menyatakan tidak merasa aman secara finansial. Saat ini, banyak sekali anak muda Gen Z berusia 18 hingga 34 tahun yang masih harus tinggal bersama orang tua dan menggantungkan bantuan keuangan keluarga.
Mengapa begitu banyak Gen Z yang merasa tidak aman secara finansial? Jawabannya adalah karena kita hidup di bawah tekanan ekonomi yang berat: mencari pekerjaan makin sulit, sementara laju kenaikan gaji relatif kecil dan tidak sebanding dengan lonjakan harga kebutuhan pokok.
Kondisi ekonomi yang serba sulit ini diperparah oleh pola hidup sebagian Gen Z yang mengalokasikan belanja khusus untuk self-reward, healing, dan gaya hidup populer. Aktivitas konsumtif tersebut dianggap sebagai "kebutuhan emosional" alih-alih sekadar kemewahan. Faktanya, proporsi Gen Z yang masih tinggal bersama orang tua saat ini telah mencapai tingkat tertinggi sejak era krisis ekonomi Great Depression.
Tekanan Ekonomi Struktural dan Fenomena Self-Reward
Tren self-reward dan healing bukan lahir semata-mata dari sikap manja Generasi Z, melainkan dari pergeseran kondisi ekonomi yang jauh berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Saat ini, Upah Minimum Regional (UMR) di Jakarta berada di kisaran Rp5,4 juta dan sekitar Rp2,1 juta di Jawa Tengah. Padahal, biaya hidup dasar bulanan di kota besar hampir menginjak angka Rp7 juta per bulan, belum termasuk sewa tempat tinggal dan kebutuhan tak terduga lainnya.
Di sisi lain, harga hunian di Jakarta dapat mencapai 10 kali lipat dari total pendapatan setahun, padahal batas ideal rasio keterjangkauan rumah bagi pekerja UMR hendaknya berada pada kisaran 3 kali lipat dari gaji tahunan. Angka-angka ini makin kehilangan relevansinya terhadap realitas biaya hidup riil.
Kondisi serupa terjadi di Amerika Serikat, di mana harga median rumah melambung sekitar 50 persen sejak tahun 2015, sementara kenaikan gaji pekerja muda hanya berkisar 15 persen. Selisih ini menciptakan jurang pemisah yang membuat proses menuju kemandirian finansial menjadi jauh lebih panjang daripada masa-masa sebelumnya.
Perubahan tersebut terlihat nyata dari ketimpangan antara pertumbuhan pendapatan dan biaya hidup dalam satu dekade terakhir. Harga kebutuhan dasar (terutama sektor perumahan) bergerak jauh lebih cepat dibandingkan kenaikan upah pekerja muda.
Tekanan ekonomi struktural ini diperparah oleh tatanan budaya sekuler-liberal yang menjual self-reward, healing, dan konsumsi hedonis sebagai "solusi pelarian". Algoritma media sosial terus mencekoki generasi muda dengan tren populer yang memicu kecemasan tertinggal (Fear of Missing Out/FOMO) dan budaya belanja impulsif.
Sistem kapitalisme inilah yang menjepit Gen Z: biaya hidup terus melonjak sementara gaji stagnan, sedangkan negara yang seharusnya bertanggung jawab mengurus kebutuhan dasar rakyat justru memilih berlepas tangan.
Menemukan Kembali Tujuan Hidup Hakiki
Di sisi lain, ketika Gen Z tidak memahami tujuan hidupnya yang sejati, kebanyakan dari mereka mengukur kebahagiaan sebatas pencapaian materiil dan kenikmatan sesaat, bukan dari keridhaan Allah SWT maupun kemuliaan nilai-nilai Islam.
Islam hadir menawarkan kerangka solusi yang menyeluruh (kaffah). Islam tidak hanya menjamin kesejahteraan ekonomi dan menjaga kehormatan manusia, melainkan juga meluruskan kompas kehidupan agar generasi muda memahami hakikat keberadaannya di dunia.
Gen Z tidak boleh dibiarkan sebatas bertahan hidup dalam ketidakpastian. Dengan pijakan akidah dan tata kelola syariat yang adil, Generasi Z dapat bertransformasi menjadi generasi rabbani yang tangguh dan siap membangun kembali peradaban yang mulia.
Wallahu a'lam bish-shawab.
[] Aisyah Nurul J. | Santriwati PPTQ Darul Bayan Sumedang
0 Komentar