
Antara Januari 2024 hingga Juli 2026, PBB memverifikasi kematian 174 anak Palestina di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, sebuah data tragis yang mencatat gugurnya lebih dari satu anak setiap minggunya. Lebih dari 1.500 anak mengalami luka-luka, dengan hampir separuhnya menderita luka tembak akibat peluru tajam. Selain itu, sebanyak 355 anak Palestina dari Tepi Barat saat ini mendekam dalam tahanan militer Israel.
Israel terus melancarkan gempuran tanpa henti terhadap warga dan anak-anak Palestina demi mewujudkan ambisi merampas tanah serta mengusir penduduk asli di Tepi Barat untuk digantikan oleh pemukim ilegal Israel. Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) seolah hanya berdiri sebagai penonton yang melontarkan kecaman retoris tanpa aksi nyata untuk menghentikan tentara IDF.
Kebiadaban Israel terhadap Anak-Anak
Kejahatan Zionis Israel terhadap anak-anak Palestina terbukti sangat biadab dan merusak masa depan generasi. Tindakan ini menimbulkan trauma mendalam, penderitaan fisik, serta kehancuran nyata bagi kehidupan anak-anak. Zionis Israel secara sengaja meningkatkan eskalasi teror, ribuan gelombang serangan, pengusiran paksa, perampasan lahan, hingga genosida dalam senyap untuk menguasai Tepi Barat, sebagaimana skenario yang telah mereka lancarkan di Jalur Gaza.
Kejahatan masif ini seharusnya direspon dengan perlawanan militer yang sepadan. Sayangnya, dunia dan para penguasa di negeri-negeri muslim justru bersikap bungkam dan tidak mengerahkan pasukan untuk memukul mundur militer Zionis Israel. Pembiaran internasional ini menunjukkan bahwa para pemimpin negeri-negeri muslim tidak memiliki bargaining position di hadapan Israel dan Amerika Serikat, sebab legitimasi kekuasaan mereka kerap bersandar pada restu Washington.
Ironisnya, kekuatan militer dan alutsista negeri-negeri muslim justru tidak diterjunkan ke garis depan untuk mengusir penjajah, melainkan digunakan di dalam negeri untuk meredam kritik dan perlawanan rakyatnya sendiri. Realitas ini menuntut umat Islam untuk bangkit dan melayangkan mosi tidak percaya kepada tatanan politik yang ada: berharap pada penguasa pasif untuk menolong rakyat Tepi Barat adalah sebuah kemustahilan.
Solusi Ukhuwah Islamiyyah dan Persatuan Sistemik
Dalam hukum Islam, membiarkan kejahatan Zionis Israel melumat anak-anak Palestina dan menghancurkan nilai kemanusiaan adalah perbuatan yang diharamkan secara mutlak. Ikatan ukhuwah Islamiyyah, persatuan negeri-negeri muslim, serta penegakan institusi Khilafah merupakan kebutuhan strategis utama untuk menumbangkan penjajahan Zionis Israel. Seruan jihad dan mobilisasi tentara muslim untuk membebaskan bumi Palestina harus terus-menerus digaungkan oleh komponen umat dan gerakan politik ideologis hingga kemerdekaan Palestina terwujud secara nyata.
Selama ini, berbagai mekanisme kompromi yang ditawarkan oleh dunia internasional, mulai dari opsi solusi dua negara (two-state solution), kesepakatan gencatan senjata temporer, proyek "New Gaza", hingga Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP), tidak pernah membuahkan hasil hakiki. Buktinya, tentara IDF tetap melancarkan gempuran secara membabi buta, merampas tanah permukiman, dan membumiharuskan perkebunan warga. Kecaman dari PBB maupun peringatan diplomasi dari para pemimpin negara Eropa sama sekali tidak menyurutkan langkah Israel untuk melanggengkan ambisi "Israel Raya".
Satu-satunya kekuatan yang mampu menggentarkan Israel dan para sekutunya adalah persatuan nyata negeri-negeri muslim di bawah satu naungan kepemimpinan global: Khilafah Ar-Rasyidah. Institusi ini secara historis telah terbukti memimpin peradaban dunia selama kurang lebih 14 abad dan memancarkan kedamaian. Sejarah mencatat bahwa pada masa Khalifah Umar bin Khattab r.a., bumi Palestina berhasil dibebaskan dan dilindungi melalui Perjanjian Umariyah. Begitu pula ketika Shalahuddin Al-Ayyubi menaklukkan Yerusalem dari cengkeraman pasukan Salib. Seluruh tinta emas sejarah tersebut membuktikan bahwa hanya dengan persatuan militer dan politik umat Islam, kedzaliman dapat dihancurkan.
Langkah awal untuk mewujudkan kembali tatanan ini membutuhkan aktivitas dakwah politik (da'wah siyasah) secara berjamaah. Dakwah ideologis yang konsisten membina umat akan menanamkan pentingnya merebut kembali kepemimpinan Islam melalui tegaknya Khilafah. Umat harus disadarkan bahwa solusi tuntas bagi Palestina hanyalah melalui jihad dan Khilafah.
Seruan ini seyogianya disambut hangat oleh seluruh elemen umat dan kelompok gerakan Islam untuk menyatukan visi perjuangan, tanpa memperbesar perselisihan pada ranah cabang (furu'iyyah). Kemenangan umat akan makin dekat ketika masyarakat mampu mendesak para penguasa muslim untuk mencampakkan sekat-sekat nation-state (negara-bangsa), karena belenggu nation-state inilah yang selama ini memisahkan potensi militer kaum muslimin dari saudara-saudaranya di Palestina.
Allah SWT berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
Artinya: “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai...” (QS. Ali 'Imran: 103).
Allah SWT juga berfirman:
وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
Artinya: “Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang...” (QS. Al-Anfal: 46).
Wallahu a'lam bish-shawab.
[] Santy
0 Komentar