Sejarah

6/recent/Sejarah-posts

Header Ads Widget

Responsive Advertisement

TANPA KITA PUN KHILAFAH PASTI TEGAK, ISLAM PASTI MENANG: JANGAN LEWATKAN PELUANG EMAS MERAIH PAHALA


Ada satu kesadaran mendasar yang wajib dimiliki oleh setiap muslim dalam medan perjuangan Islam: "Allah tidak membutuhkan kita, kitalah yang membutuhkan Allah."

Islam tidak akan pernah kehilangan kemuliaannya hanya karena ada manusia yang enggan memperjuangkannya. Syariat Allah SWT tidak akan melemah sebatas karena ada orang yang memilih diam. Jika manusia berpaling, Allah SWT Maha Mampu menggantinya dengan kaum lain yang lebih siap dan ikhlas menjalankan amanah.

Allah SWT berfirman:

وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ
Artinya: “Dan jika kamu berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu.” (QS. Muhammad: 38).

Karena itu, persoalan utamanya bukan tentang apakah Islam akan menang, sebab kemenangan Islam adalah keniscayaan. Persoalan sesungguhnya adalah: Apakah kita akan menjadi bagian dari orang-orang yang Allah pilih untuk memperjuangkan kemenangan tersebut?


Janji Kemenangan Islam Adalah Pasti

Allah SWT telah menjanjikan kemenangan hakiki bagi agama-Nya:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ
Artinya: “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama...” (QS. At-Taubah: 33).

Kondisi ketimpangan dan penderitaan umat hari ini tidak boleh membuat seorang muslim bersikap pesimistis. Janji Allah SWT itu pasti. Allah SWT berfirman:

وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَىٰ أَمْرِهِ
Artinya: “Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya...” (QS. Yusuf: 21).

Namun, keyakinan terhadap janji kemenangan Islam bukan alasan untuk berpangku tangan. Justru keyakinan tersebut harus mendorong kita makin sungguh-sungguh menunaikan kewajiban.


Wajib Tunduk kepada Syariat Secara Utuh

Perjuangan Islam bukan sekadar keinginan emosional untuk melihat Islam menang. Seorang muslim berkewajiban tunduk pada hukum Allah SWT dan berupaya agar Islam diterapkan secara menyeluruh (kaffah).

Allah SWT berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ
Artinya: “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan...” (QS. An-Nisa: 65).

Allah SWT juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan...” (QS. Al-Baqarah: 208).

Penerapan Islam secara kafah bukan sebatas cita-cita kelompok tertentu, melainkan wujud ketundukan mutlak seorang hamba kepada Allah SWT.


Peran Khilafah dan Kewajiban Dakwah

Dalam sejarah, Khilafah bukan konsep yang asing. Rasulullah ﷺ memimpin tatanan masyarakat Islam di Madinah, yang kemudian dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin dan institusi kepemimpinan Islam setelahnya. Rasulullah ﷺ bersabda:

ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ
Artinya: “...Kemudian akan kembali Khilafah yang mengikuti metode kenabian.” (HR. Ahmad).

Bagi muslim yang meyakini kewajiban penerapan syariat secara menyeluruh, perjuangan menuju kehidupan yang diatur dengan Islam merupakan perkara strategis. Namun, tegaknya Islam tidak bergantung pada individu tertentu; tanpa kita pun, Allah SWT sanggup mewujudkan apa yang Dia kehendaki. Kewajiban kita adalah terus beramal dan berdakwah sesuai kapasitas yang dimiliki.

Allah SWT berfirman:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ
Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan...” (QS. Ali 'Imran: 104).

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Artinya: “Barang siapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. At-Tirmidzi).

Oleh karena itu, dakwah jangan dipandang sebagai beban, melainkan peluang emas meraih pahala. Satu nasihat dapat menjadi jalan seseorang kembali taat, satu tulisan dapat membuka kesadaran publik, dan satu ajakan dapat melahirkan mata rantai kebaikan yang berlipat ganda.


Jangan Sampai Peran Kita Digantikan

Hal yang semestinya kita takutkan bukanlah apakah Islam akan menang atau apakah Khilafah akan tegak. Yang harus kita takutkan adalah jika nama kita tidak terpilih menjadi bagian dari barisan perjuangan tersebut. Allah SWT Maha Mampu mengganti kita dengan generasi yang lebih ikhlas, lebih kuat, dan lebih siap berkorban.

Maka, jangan pernah merasa kita sedang berjasa kepada Islam (kitalah yang membutuhkan Islam. Jangan merasa kita sedang menolong Allah SWT) kitalah yang mengharapkan pertolongan-Nya. Dan jangan menganggap dakwah sebagai beban, sebab dakwah adalah kesempatan berharga untuk menunaikan kewajiban, meraih pahala, serta mengharapkan rahmat dan ampunan-Nya.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
Artinya: “...Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapus kesalahan-kesalahan (dosa)...” (QS. Hud: 114).

Ampunan tetap merupakan hak prerogatif Allah SWT. Oleh sebab itu, aktivitas dakwah harus diiringi keikhlasan niat, tobat yang sungguh-sungguh, meninggalkan kemaksiatan, dan menunaikan kewajiban-kewajiban syariat lainnya. Selagi pintu kesempatan masih terbuka, jangan sia-siakan.

Tanpa kita pun Khilafah pasti tegak dan Islam pasti menang. Persoalannya sekarang bukan tentang kapan kemenangan itu tiba, melainkan: Ketika kemenangan itu diwujudkan Allah, apakah kita termasuk orang-orang yang pernah mengambil bagian dalam perjuangannya, atau justru sebatas penonton yang menyia-nyiakan peluang emas yang Allah berikan?

Mari tunaikan kewajiban dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Islam pasti menang, jangan sampai kita kehilangan kesempatan emas untuk menjadi bagian dari kemenangan itu!

Wallahu a'lam bish-shawab.

[] Muhar | Jurnalis Lepas

Posting Komentar

0 Komentar