Sejarah

6/recent/Sejarah-posts

Header Ads Widget

Responsive Advertisement

BENCANA KEMBALI TERJADI, BAGAIMANA PERAN NEGARA?


Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Berton SP Panjaitan, mengklarifikasi data terkait 94 warga yang sebelumnya dilaporkan meninggal dunia pascagempa magnitudo 7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dalam konferensi pers pada Selasa (15/9/2026), BNPB sebelumnya menyampaikan bahwa total korban jiwa mencapai 142 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 48 orang dinyatakan meninggal akibat dampak langsung guncangan gempa, sedangkan 94 orang lainnya meninggal secara tidak langsung saat berada di lokasi pengungsian (Rakyat Merdeka / RM.id, 15/9/2026).

Terbatasnya fasilitas dasar hingga minimnya layanan medis mendesak menjadi faktor utama di balik tingginya angka kematian di tempat pengungsian. Kapasitas penanganan yang disediakan pemerintah terhadap para korban bencana di penampungan terkesan amat minim dan lemah.

Akibatnya, jumlah korban bencana yang mengembuskan napas terakhir karena menunggu pelayanan yang layak di pengungsian justru lebih banyak daripada korban yang meninggal akibat tertimpa reruntuhan gempa bumi.


Kegagalan Perlindungan Jiwa dalam Sistem Sekuler

Fakta hari ini mengonfirmasi bahwa dalam sistem sekuler, hak atas kesehatan serta perlindungan jiwa setiap individu rakyat belum ditempatkan sebagai prioritas mendesak yang wajib dijamin penuh oleh negara. Peran negara saat ini terkesan tidak fokus mengurus kebutuhan mendasar rakyat. Peran negara sebagai pengurus (ra'in) sekaligus pelindung umat tidak berfungsi secara optimal, sehingga memicu berbagai ketimpangan dan krisis kemanusiaan di tengah masyarakat.

Kondisi ini sungguh kontras jika dibandingkan dengan peran negara dalam tatanan sistem Islam. Syariat Islam memandang bahwa jaminan kesehatan dan perlindungan jiwa setiap manusia merupakan hal yang sangat krusial, di mana keduanya menjadi tanggung jawab mutlak yang wajib dipenuhi oleh negara.


Konsep Ri'ayah dan Solusi Sistemis Islam

Sistem Islam mewajibkan penguasa untuk menjalankan fungsi pengurusan (ri'ayah) dan perlindungan publik secara maksimal. Layanan kesehatan dan penanganan krisis dalam Islam ditopang oleh sistem ekonomi serta sistem keuangan Islam yang kokoh, sehingga pemenuhan kebutuhan pokok tiap individu rakyat dijamin secara nyata oleh negara.

Kembalinya peran negara yang hakiki kini sangat dinantikan oleh umat. Masyarakat yang tengah dihimpit berbagai persoalan dan krisis merindukan hadirnya sosok penguasa yang siap mengayomi, melindungi, serta menjamin kebutuhan hidup mereka secara adil dan bermartabat.

Oleh karena itu, tugas terpenting kita saat ini adalah mengambil bagian dalam perjuangan mengembalikan tatanan kehidupan yang sempurna di bawah naungan kepemimpinan Islam (Khilafah), serta mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama memperjuangkannya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

[] Amila Sholiha

Posting Komentar

0 Komentar