Sejarah

6/recent/Sejarah-posts

Header Ads Widget

Responsive Advertisement

HILMI: TAK HANYA UNTUK RAKYAT, SABAR DAN TAKWA HARUS MENGALIR KE PENGUASA


Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menekankan, refleksi nasihat sabar dan takwa harus mengalir ke penguasa, bukan hanya untuk rakyat.

"Sabar dan takwa harus mengalir ke atas," tulisnya melalui Letter to Intellectuals No. 021, Senin (14/9/2026), berjudul "Sabar dan Takwa Tak Hanya untuk Rakyat: Kekuasaan, Kritik, dan Kewajiban Negara Membangun Sistem yang Mau Mendengar".

Maka, lanjutnya, sabar dan takwa jangan dijadikan teknologi sosial untuk mendisiplinkan rakyat.

HILMI sepakat rakyat memang harus sabar agar kritiknya tidak berubah menjadi fitnah dan kezaliman. "Tetapi penguasa juga harus sabar agar kritik tidak dibungkam hanya karena menyakitkan telinga," imbuhnya.

Rakyat, sambungnya, harus bertakwa dalam menyampaikan kritik. "Tetapi penguasa harus jauh lebih bertakwa ketika menggunakan anggaran, menentukan proyek, mengerahkan aparat, mengelola data, atau membuat keputusan bagi jutaan manusia," jelasnya.

HILMI menyesalkan bahwa dalam kehidupan sosial-politik, nasihat tentang sabar dan takwa sering terdengar ketika masyarakat sedang menghadapi kesulitan.

"Ketika harga naik, layanan publik buruk, lapangan kerja menyempit, banjir berulang, atau kebijakan pemerintah dianggap tidak adil, masyarakat diminta bersabar," ungkapnya.

Ketika protes mulai keras, ungkapnya lagi, masyarakat kemudian diingatkan agar bertakwa, tidak gaduh, dan menjaga ketertiban.

Nasihat itu, menurut HILMI, memang tidak salah, karena sabar dan takwa adalah ajaran fundamental Islam.

"Persoalannya muncul ketika keduanya seakan khusus bagi yang di bawah, sementara mereka yang berkuasa jarang diingatkan bahwa mereka pun harus sabar dan bertakwa," pungkasnya. [] Muhar

Posting Komentar

0 Komentar