
Polemik keluhan Yurizal Tri Chaerawan tentang lamanya layanan BPJS Kesehatan dinilai tidak seharusnya hanya dilihat sebagai pertengkaran antara pasien dan tenaga kesehatan. Narator Tinta Media menyebut persoalan tersebut sebagai fenomena gunung es yang menunjukkan tekanan dalam sistem pembiayaan kesehatan.
Hal itu disampaikan Narator Tinta Media dalam video bertajuk “Fenomena Gunung Es BPJS” di kanal YouTube @TintaMediaID, Senin (4/9/2026).
“Polemik keluhan Yurizal Tri Chaerawan tentang lamanya layanan BPJS jangan hanya dilihat sebagai pertengkaran antara pasien dan tenaga kesehatan,” ujar Narator Tinta Media.
Menurutnya, keluhan pasien terkait antrean dan lambatnya pelayanan hanya merupakan persoalan yang terlihat di permukaan. Di sisi lain, tenaga kesehatan menghadapi beban kerja dan rendahnya jasa pelayanan, sementara rumah sakit menghadapi tekanan biaya operasional yang besar.
“Sebab kasus ini ibarat gunung es. Di permukaan pasien mengeluhkan antrian dan lambatnya pelayanan. Tenaga kesehatan mengeluhkan beban kerja dan rendahnya jasa pelayanan. Rumah sakit pun menghadapi tekanan biaya operasional yang besar,” katanya.
Ia menilai, persoalan tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh pasien, dokter, perawat, atau rumah sakit. Menurutnya, berbagai pihak sama-sama menghadapi tekanan dari sistem pembiayaan kesehatan.
“Jadi siapa yang sebenarnya salah? Bisa jadi persoalannya bukan semata-mata pasien, dokter, perawat, atau rumah sakit. Mereka sama-sama tertekan oleh sistem pembiayaan kesehatan,” tuturnya.
Narator Tinta Media mengakui BPJS telah memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan. Namun, ia menyoroti persoalan pembiayaan BPJS yang disebutnya bergantung pada iuran peserta dan anggaran negara yang 80 persennya berasal dari pajak.
“BPJS memang memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan, tetapi pembiayaannya tetap bergantung pada iuran peserta dan anggaran negara yang 80%-nya dari pajak. Ketika kebutuhan pelayanan meningkat, sementara biaya terbatas, gesekan pun tak terhindarkan,” ulasnya.
Ia juga menilai, peningkatan iuran dan pajak dapat semakin membebani masyarakat. Sebagai alternatif, ia menyebut Islam menawarkan solusi melalui tanggung jawab negara dalam pembiayaan kesehatan.
“Bila iuran dan pajak ditingkatkan, rakyat makin tercekik,” tandasnya.
Solusi Sejati
Narator Tinta Media menyatakan Islam menawarkan solusi sejati kesehatan masyarakat yang merupakan tanggung jawab negara.
“Pembiayaannya tidak semestinya dibebankan kepada rakyat melalui asuransi wajib ataupun pajak,” sebutnya.
Ia pun memastikan, dengan keagungan sistem Islam, negara dapat membiayai layanan publik melalui pengelolaan kekayaan milik umum, seperti minyak, gas, batu bara, dan sumber daya strategis lainnya.
“Negara dapat membiayai layanan publik melalui pengelolaan kekayaan milik umum seperti minyak, gas, batubara, dan sumber daya strategis lainnya,” jelasnya.
Karena itu, Narator Tinta Media mengajak masyarakat tidak hanya memperdebatkan pihak yang dianggap salah, tetapi juga mempertanyakan sistem pembiayaan kesehatan yang menjadi akar persoalan.
“Jadi, jangan hanya memperdebatkan siapa yang salah. Pertanyakan sistemnya. Sebab kalau akarnya tidak diselesaikan, polemik serupa akan terus berulang,” pungkasnya.
Sebelumnya, kasus Yurizal Tri Chaerawan viral mengguncang publik dan menyorot pelayanan BPJS Kesehatan. Melalui Threads pada 22 Juli 2026, ia mengeluhkan antrean delapan jam untuk mendapat kamar rawat inap.
Unggahan itu viral di media sosial dan memicu perdebatan luas, termasuk dengan tenaga medis. Publik pun mempertanyakan empati pelayanan kesehatan dan etika tenaga medis di ruang digital.
Sorotan semakin meluas setelah Yurizal meninggal dunia pada 31 Juli 2026. Namun, keterkaitan antara waktu tunggu dan penyebab meninggal dunianya belum diumumkan secara resmi dari pihak-pihak terkait. [] Muhar
0 Komentar